rahmat blog

Just another Blogger Fisip UNS Sites site

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

seri publikasi

Mata kuliah Dasar-dasar Logika

Judul : BALI PASCAKOLONIAL

Jejak Kekerasakn dan Sikap Kajian Budaya

Nama: Rahmat Sugiyarto    NIM : D0310054

Dosen pengampu: Akhmad Ramdhon

review buku:

BALI PASCAKOLONIAL

Jejak  Kekerasan dan Sikap Kajian Budaya

Penulis: I Ngurah Irawan

ISBN 978-979-3037-36-5

Review

Buku ini adalah kumpulan tulisan penulis yang sebagian besar dipublikasikan pada Jurnal Kajian Budaya, Program Magister dan Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana dan beberapa kertas kerja untuk kepentingan seminar dan konferensi. Beberapa tema-tema tulisan di jurnal tersebut masih seputar sejarah sosial, politik kebudayaan, dan  genealogi kekerasan yang di tekuni penulis sejak 2002. Penulis mengembangkan fokus kajian kepada kelompok-kelompok yang terpinggirkan, para subaltern yang berada di tepi pasang surut pergolakan politik kebudayaan dan kekerasan di Bali. Ide dasar buku ini merekasikan tiga poin penting yaitu (Bali) pascakolonial, kekrasan, dan kajian budaya.

Bali pascakolonial menuju pada sebuah perdebatan teoritik dan empirik tentang bingkai perspektif melihat Bali hingga saat ini. Konteks pascakolonial sangat penting diajukan untuk melihat Bali bukan sebuah warisan yang steril dari relasi kuasa. Bingkai pascakolonial memperlihatkan perspektif bagaimana melihat negara bekas jajahan dari pembongkaran warisan praktik kolonialisasi tersebut. Warisan praktik kolonialisasi telah memendam dan tercermin dalam kehidupan negara jajahan, bahkan diadopsi oleh masyarakat terjajah untuk mempraktikan kolonialisasi sesama mereka. Warisan praktik kolonialisasi inilah yang coba untuk dibongkar oleh perspektif pascakolonial.

Bali mencatatkan sejarah panjang kolonialisasi yang meninggalkan begitu banyak wearisan hingga kini begitu kuat dan lestari. Warisan rezim kolonial itulah yang dianggap oleh sebagian besar masyarakat Bali sebagai warisan yang “adiluhung”. Warisan yang diantaranya tersebar dalam adat-istiadat, sistem sosial, desa adat, nilai-nilai, budaya, dan hukum mendarah daging dalam kehidupan rakyat Bali. Hal ini diuraikan dalam bab V, jejaring kuasa dalam pembentukan ke-Bali-an yang dimulai dari praktik kolonialisasi di Bali. Salah satu bagiannya menguraikan tentang ideologi Baliseering yang merupakan salah satu ideologi rezim kolonial untul membuat Bali.

Rezim kolonial berusaha melakukan proyek rekayasa penciptaan budaya Bali dengan merekayasa dan mengkonsumsi budayanya sekaligus. Hal ini menunjukan bagaimana secara lebih luas identitas tentang Bali yang diwariska hingga kini dirancang olah kekuasaan rezim kolonial. Penciptaan ideologi konservasi mentradisikan Bali hanya menetapkan Bali sebagai obyek negara jajahan dalam praktik kolonialisasi. Praktik penjajahan kolonial bukan hanya melakukan penjajahan secara fisik dalam menaklukan wilayah, tapi juga melakkukan penguasaan dan penciptaan atas lingkungan sosial budaya negara jajahan tersebut. Praktik kolonialisasi menjadi semakin canggih dari kolonialisasi tradisional ke kolonialisasi modern. Kolonialisme modern ditandai dengan dua ciri penting yaitu: (a)daerah, daerah koloni tidak hanya membayar upeti, tetapi struktur perekonomian daerah koloni (dengan manusia dan alamnya) dirombak demi kepentingan negara induk. (b) daerah-daerah koloni menjadi pasar yang dipaksamengonsumsi produk-produk negara penjajah. Dalam kolonialisme modern, kemampuan manusia dan sumber alam dari daerah koloni diliarkan sehingga keuntungannya,oleh sistem yang bekerjaakan selalu kembali ke negara induk. Dengan sistem ekonomi seperti ini dapat dipahami bahwa sistem perekonomian kolonial sangat berperan dalam menumbuhkan kapitalisme dan industri Eropa. Dengan kata lain, kolonialisme menjadi bidan yang membantu kelahiran kapitalisme Eropa.

Penjajahan kolonialisasi di Bali jelas pada tataran ideologi, sebagai jajahan secara pemikiran . ia membangun sebuah pembedaan yang menarik dan agak tendensius diantara dua tipe kolonialisme yang secara kronologis berbeda. Pertama, pemikira yang relatif sederhana yang menyangkut fokusnya pada penaklukan fisik banyak teori, sedangkan yang kedua lebih mengacu pada komitmennya terhadap penaklukan dan penjelajahan pikiran ,jiwa, dan budaya. Jika kolonialisme pertama lebih keras dan juga lebih transparan dalam swakepentingan, ketamakan dan keserakahanya. Sebalikyan dan yang lebih membingungkan model kedua justru dipprakarsai oleh kaum rasionalis, modernis, dan liberal yang berpendapat bahwa imperialisme merupakan pertanda menuju dunia yang tak beradap.

Represenasi kekerasan dan ekspresi keterdesakan secara simbolik terjadi pasca bom 2002 dan 2005. Momen kekerasan menempatkan peristiwa yang sangat berat yang menundang keprihaitnan dunia internasional, sementara kekerasan pembantaian massal 1965 dikubur dalam-dalam, berusaha dilupakan dan disimpan dalam glamornya pariwissata yang menjadi pahlawan pembangunan Bali.

Kemudian pada bagian akhir dari buku ini menjelaskan jebakan kajian budaya yang sebelumnya anti disiplin menjadi disiplin malah menjadi bumerang sendiri. Sebagai sebuah disiplin yang ditawarkan universitas, ia menjadi bagian kemapanan akademik dan struktur kekuasaan lembaga pendidikan. Pada akhirnya kajian budaya menjadi terlalu teknis, dangkal, dan tercabut dari akarnya yaitu kehidupan dan realitas orang-orang yang tertindas yang seharusnya diberdayakan, dibuat sebagai strategi perlawanan dan rejuangan hidup.

Kontaminasi pendisiplinan dalam kuasa akademik dan struktur kekuasaan universitas kemudian menyeret kajian budaya sabagai salah satu bagian dari industrialisasi pendidikan. Kajian budaya dalam salah satu sindiran dinyatakan sebagai tong sampah, bercampurnya seluruh ilmu tanpa pondasi yang kokoh terhadap pemahaman teoritik, ideologis, serta politis dari ilmu ini. Yang terjadi kemudian adalah pengukuhan elitisme kelas menengah melalui institusi pendidikan dan ritual birokratisme pendidikan.

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

seri publikasi

Mata kuliah Dasar-dasar Logika

Judul : Orang Boyan Bawean

Perubahan Lokal dalam Tranformasi global

Nama: Rahmat Sugiyarto    NIM : D0310054

Dosen pengampu: Akhmad Ramdhon

Review  buku:

Orang Boyan Bawean Perubahan Lokal dalam Transformasi Global

Penulis: Dr. Drajat Tri  Kartono, M.Si.

ISBN 979-3456-03-5

Review

Buku ini merupakan penulisan kembali laporan penelitian untuk disertasi di Universitas Indonesia. Penelitian terhadap realitas suatu pulau kecil di pulau jawa bernama Bawean. Pulau ini terletak antara radius kira-kira 80 mil sebelah utara Surabaya karena pulau yang terpencil itu sebagian besar penduduknya baik yang berada di puncak gunung maupun di daerah pinggiran pantai telah berpengalaman mencari nafkah dengan menjelajah mancanegara. Padahal dimana di desa si penulis tinggal listrik hanya nyala antara jam enam sampai jam dua belas malam.  Pada saat itu penulis sendiri belum pernah keluar negeri, rasa heran tersebut membawa penulis untuk memulai pengkajian.

Buku ini bagian pokoknya ada terdiri dari empat bagian yaitu sebagai berikut:

Bagian pertama terdir dari dua bab (Bab I dan II) membahas tentang masyarakat Bawean dan Boyan serta membahas tentang Peran Negara dan Respon Migran. Bab I memberikan gambaran konstektual dari Pulau Bawean didlam kajian mengenai dinamika ekonomi masyarakat migran dimulai, serta karakteristik orang Bawean di Malysia(Kuala Lumpur dan Selangor) atau biasa dikenali dengan sebutan Boyan. Topografi pulau Bawean adalah berbukit-bukit menurut pengamatan Jawa Pos (19 oktober 1990) terdapat sekitar 99 bukit, di Pulau Bawean dikenal sebagai pulau bukit dilihat dari kejauhan terlihat bukit-bukit lancip di pulau tersebut bukit tersebut adalah tanah kapur dengan kondisi tanah yang tidak begitu subur karena erosi dan penebangan hutan sejak dulu sehingga kurang menguntungkan apabila untuk kegiatan pertanian. Bab II membahas tentang konteks pola migrasi orang Bawean yang berada diluar pola yang dikembangkan oleh negara (terutama Indonesia). Karena keadaan alam yang kurang subur kemudian sebagian besar dari panduduk Bawean adalah bermata pencaharian sebagai peteni, tapi merka tidak bisamenjual keluar pulau karena biaya transport yang melebihi harga hasil panen maka mereka terpaksa mencari alternati lain untuk menjamin hidupnya salah satunya yauitu dengan kerja di luar negeri, bagi pemerintah hal ini menjadi penting karena para TKI  yang bekerja diluar negeri menghasilkan devisa bagi negara yang sangat besar. Berdasarkan Depnaker tahun 1995 para TKI menghasilkan devisa bagi negara mencapai 830 juta US$. Melihat situasi ini pemerintah mulai mengambil kebijakan mengenai tenaga kerja mulai dari menjamin perlindungan, penyaluran tenaga kerja , sertifikasi bahkan satya menilai dengan digalakkannya pendidikan kejuruan atau SMK juga sebagai pembekalan kepada calon-calon TKI atau pekerja domestik. Posisi penjelasan ini penting karena faktor-faktor banyak terlibat tidak saja pada saat mengambil keputusan tetapi juga dalam proses perjalanan dan kehidupan di Malaysia.

Bagian kedua membahas tentang dinamika kehidupan ekonomi masyarakat Bawean yang tidak berbasis pada sumber daya ekonomi lokal tetapi memakai migrasi kerja keluar negeri (Malaysia) sebagai alternatif untuk menjamin kehidupan dan kesejahteraan ekonomi. Pada bagian ini dibahas empat konsep penting sebagai pendekatan (teori) yaitu konstruksi sosial, modal sosial, jaringan sosial, dan path dependensi. Masing-masing konsep dideskripsikan dalam bab III bahwa selain untuk pemenuhan kebuthan hidup merantau juga sebagai budaya otang Bawean, lebih lanjutnya hal ini dilakukan penelitian oleh Vrendenberg pada tahun 1988 beliau menuliskan bebebrapa faktor penyebab mereka merantau diantaranya adalah kesulitan ekonomi daerah asal dan daya tarik di daerah tujuan perantaauan, IV ikatan keluarga dalam ekonomi merantau. Keluarga mempunyai peran penting dalam mengambilan keputusan untuk bekerja diluar negeri dan selama di negara tujuan keluarga peannya sangat penting. Disini dijelaskan sistemkeluarga, kemudian selayaknya kluarga yang ditinggal lama rentan akan perselingkuhan terutama istri berpeluang untuk selingkuh karena secara kebuthan batiniah tidak terrpenuhi, kemuydian perceraian, namun hal ini jarang terjadi di desa Gunung maupun sangkapura hal ini lebih sering terjadi di daerah pelosok yang jauh dari kota , V Komersialisasi Lembaga Pengantar dan Ketiadaan Modal Sosial, dalam proses ini  migrasi tenaga kerja dari pulalu Bawean sampai ke Malaysia, istilah pengawal cukup penting untuk dipahami secara terpisah. Hal ini terkait dengan peran penting dari pengawal sebagi lembaga “penghubung di dalam proses migrasi tenaga kerja” antara migran di Pulau Bawean dan pasar tenaga kerja di Malaysia. Pada umumnya, para migran  yang baru pertama kali merantau keluar negeri dan yang tidak punya modal serta sanak saudara, merasakan nilai penting pengawal yang mengantar mereka ke Malaysia

Secara sederhana pengawal adalah pekerjaan seseorang lebih tepat digambarkan sebagai suatu komplek kegiata atau jaringan.  VI Ekonomi Lokal dan ekonomi Migran, sumber mata pencaharian dari ekonomi mancanegara atau merantau telah menunjukan hasil di Bawean. Bentuk hasil ini yang jelas dapat dilihat adalah runah-runah tembok dan berlantai tegel serta perabot rumah tangga yang berkualitas. Dalam penjelasan sebelumnya telah ditunjukan bahwa perkembangan ini didukung konstruksi sosial masyarakat yang terkait dengan misi kesejahteraan keluarga atau dusun dan penghargaan terhadap hasil merantau. Konstruksi sosial ini diperkuat dengan jalur meantau melalui keluarga, telah memberikan kontribusi yang besar dalam peningkatan pengiriman tenaga kerja dari Bawean keluar negeri. Tambahan unutk melengkapi diskripsi ini dikemukakan pada bab VII yang secara khusus menjelaskan tentang strategi atau penyesesuaian sosial (organisasi, semangat kerja dan perilaku) orang Bawean dalam usaha bertahan dalam kompetisi di pasar tenaga kerja tidak terampil di Malaysia, tambahan ini penting karena didalamnya tergambar strategi untuk perlindungan dan jaminan sosial tenaga kerja diluar negeri yang selama ini menajdi masalah tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Bagian ketiga membahas mengenai dampak migrasi tenaga kerja internasioanal yang dilakukan orang Bawean terhadap perkembangan ekonomi masyarakat di Pulau Bawean. Bagian ini mengambil judul tentang kota sebagi suatu penonjolan terhadap kecenderungan sifat komsutif yang berkembang baik dalam segi kegiatan komsumsi maupan produktif (investai). Perkembangan karakteristik ini yang mendorong berkembangnya Kota Sangkapura di Bawean. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah setelah menghasilkan dari hasil merantau kemudian hasilnya atau sering sebutannya remitanakan digunakan sebagai investasi unutk usaha dan konsumsi, kedua hal tersebut secara makro berdampak pada perkembangan urbanisme (perkembangan kehidupan dierkotaan) di Bawean. Didalamnya juga dibahas tentang dampak di tingkat yang lebih kecil yaitu keluarga.

Bagian keempat adalah kesimpulan yang didalamnya didiskusikan tentang kehidupan ekonomi masyarakat Bawean dengan pendekatan sosiologi ekonomi. Hal ini penting dalam diskusi tersebut adalah diskusi tentang embeddedness (ketertambatan) ekonomi dalam proses sosial. Ekonomi yang dilihat secara menyuluruh tidak hanya saja sebagai transaksi produsen dan konsumen atau tenaga kerja dan  majikan. Disamping itu, diskusi ini juga membuka cakrawala untuk mengkaji fenomena migrasi tenaga kerja internasional tidak saja sebagai gejala demografi tetapi juga sosiologi ekonomi.

Review Buku Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi

Review buku Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi, sebuah buku karya Prof. Dr. R. M. Soedarsono seorang guru besar sejarah seni dan budaya pada fakultas ilmu budaya dan program pascasarjana Universitas Gajah Mada. Beliau mengenyam pendidikan malang melintang dunia internasional. Buku ini diterbitkan pada tahun 2002 oleh Gajah Mada University Press yang merupakan edisi ketiga yang diperluas awalnya buku ini ditulis untuk tujuan sebagai  referensi bagi perguruan-perguruan tinggi yang dirasa sangat kurang, namun seiring perkembangannya kemudian buku ini ditulis diperluas dan dikembangkan menjadi benar-benar beernilai sebagai buku refeensi dan bukan hanya sekedar buku pengantar.

Pada buku ini dijelaskan apa budaya, darimana asalnya, ciri karakteristik budaya yang diulas, siapa pencipta dan tokoh yang menggeluti, dan keadaan budaya itu di era globalisasi mulai dari dampak, budaya yang dibaikan namun digembar-gemborkan saat diklaim oleh negara lain seperti pada kasus Reog Ponorogo yang diklaim oleh Malaysia. Serta budaya barat yang meluas di tanah air yang mulai mengganti kebudayaan bangsa sendiri. Dalam buku ini yang akan saya ulas adalah aspek sosiologi yang ada dalam buku ini.

Dalam buku ini dituliskan apa penyabab hidup matinya sebuah seni pertunjukan yang bermacam-macam, ada yang terjadi perubahan yang disebabkan oleh perubahan politik, ada yang disebabkan oleh masalah ekonomi , ada yang disebabkan oleh berubahnya selera masyarakat peminat, dan ada pula yang tidak mampu bersaing dengan kebudayaan lain. Selain itu msh ada lagi beberapa yang dituliskan dalam buku ini. Dari pernyataan ini saja kita bisa melihat bahwa seni itu juga dipengaruhi oleh kehidupan politik dan ekonomi yang kedua tersebut tidak lepas dalam kajian sosiologi dan beberapa penyebab lainnya karena faktor penyebab tersebut ada dalam diri masyarakat dan dapat menimbulkan permasalahan bagi masyarakat itu sendiri.  Dan juga tidak mungkin sebaliknya juga Seni memberi pengaruh bagi kehidupan politik, ekonomi, dan perilaku masyarakat dalam kehidupanya. Seni itu diciptakan oleh masyarakat namun akan tetapi seni juga akan mengalami apa yang disebut dengan perubahan yang dilakukan masyarakat pula dalam proses perubahannya akan ada permasalahan yang timbul dam ada yang untung dan ada yang dirugikan. Sebagai contoh seni pertujukan sekarang kalah dengan hiburan dari luar seperti bioskop dan lain sebagainya.

Masyarakat indonesia dilihat dari sejarahnya sejak dulu kebanyakan memiliki keterbukaan dengan dunia luar. Dalam buku ini dituliskan pengaruh budaya lain dari masa ke masa, seperti misalnya pengaruh dari agama Hindu, Islam, Cina, Barat. Di Indonesia sendiri memiliki lima ratus kelompok etnis dan penduduk yang banyak yang bukan tidak mungkin mudah terjadi ketegangan antar etnis.  Pernah terjadi masa polemik kebudayaan pada tahun 1928 tanggal 28 oktober yang melahirkan sebuah ikrar yang kemudian kita kenal sebagai Sumpah Pemuda, yang membawa pula pemikiran yang dilontarkan oleh para cindekiawan untuk merumuskan, bagaimana kebudayaan Indonesia akan diarahkan menjadi kebudayaan yang modern. Adu pemikiran ini makin memanasterjadi antara tahun1935 sampai 1939, yang dikenal dalam sejarah sebagai ‘Polemik Kebudayaan’. Dua kubu yang saling berseberangan pendapat adalah kubu yang percaya bahwa bangsa Indonesia hanya akan bisa menciptakan kebudayaan Indonesia yang modern apa bila kiblatnya di arahkan ke barat, sedang kubu yang satunya membantah bahwa tidak mungkin Indonesia sebagai bangsa timur akan mengarahkan kebudayaanya ke barat. Kedua kutub pemikiran ini saling serang lewat  berbagai tulisan-tulisan dan media masa. Tokoh yang sangat gigih untuk Indonesia harus ke arah Barat adalah Takdir Alisjahbana, sedang lawannya adalah Sanusi Pane. Kemudian seorang cindekiawan Jawa yang telah mengenyam pendidikan di Barat, Belanda, melihat peristiwa tersebut kemudian melontarkan pendapat janganlah kita melupakan sejarah kita sendiri dan tertipu oleh budaya barat lebih baik di ambil yang baik-baik saja. Kemudian dari sinilah saya menarik kesimpulan budaya yang kita anut sekarang ini adalah wujud dari pembiaran atau kebebasan untuk memilihnya sendiri mana yang akan kita ikuti tergantung pada diri masing-masing, dari pengamatan sekilas saja dapat disimpulkan kebudayaan kita yang sekarang itu lebih banyak yang mengarah ke barat. Tentu saja hal ini akan menimbulkan permasalahan bagi orang yang memegang budaya timur tentunya karena Indonesia adalah bangsa timur, atau seseorang yang memiliki kehidupan berbudaya timur namun berada pada kondisi lingkungan yang berbudaya barat.

Dunia seni adalah dunia yang diciptakan masyarakat tentusaja  banyak akan manusia akan bergelut dengannya dan merupakan kebutuhannya. Peristiwa ini tentu tidak akan lepas dari dunia politik sebagai sasaran media kampanye dan kepentingan-kepentingan politik, pada beberapa masa yang lalu kesenian asal Solo ketoprak yang justru sangat popular di Yogyakkarta di gaet Partai Komunis Indonesia (PKI) yang paling mencolok pada tahun1950-an sampai awal tahun1960-an, ketika partai ini mendominasi kehidupan politik tanah air. James R. Brandon dalam bukunya Theatre in Southeast Asia memberitakan, bahwa PKI membentukorgaisasi ketoprak seluruh Indonesia yang diberi nama Badan Kontak Ketoprak Seluruh Indonesia (BAKOKSI) kebudayaan yang bernama LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang secara langsung berhubungan dengan BAKOKSI selain menampilkan lakon-lakon yang mengobarkan semangat partai, pernah pula menampilkan cerita yang menghina agama dengan lakon “Matinya Tuhan”, kemudian disusul judul “Pernikahan Paus”, sementara itu Partai Nasional Indonesia (PNI) juga memiliki organisasi ketoprak yang bernama Lembaga Ketoprak Nasional (LKN) akan tetapi keanggotaanya hanya seperempat BAKOKSI, namun gemuruhnya perkembangan ketoprak dikalangan masyarakat yang berbahasa jawa kemudian berakhir menyusul peristiwa berdaarah pemberontatan PKI yang gagal yang terjadi pada 30 September 1965. Banyak tokoh-tokoh ketoprak yang membintangi BAKOKSI harus masuk penjara, karena mereka dituduh sebagai angoota PKI yang sangat aktif, setelah peristiwa berdarah itu berakhir pertunjukan ini muncul tapi tak senyaring dulu, bahkan bila dipertunjukan secara komersial hanya sebagai selingan pertunjuka wayang, tidak hanya masa PKI, pada masa penjajahan Jepang, sejak tahun1942 pertunjukan Ludruk yang masih bisa berjalan meski dengan pengawasan sering pula memanfaatkan seni pertunjukan Ludruk untuk keperluan propaganda, namun karena Ludruk berasal dari rakyat sering dilontarkan pula sindiran-sindiran kepada Jepang sehingga kurang berhasil. Ternyata Ludruk juga digunkan senjata untuk melawan Jepang lewat sindiran-sindiran yang mengacu  pada agar rakyat Surabaya berani menentang penindasan Jepang. Pada masa itu group Ludruk yang paling terkenal adalah group asuhan Cak Durasin, atau yang sering dikenal dengan Ludruk Durasin. Seiring dengan sindiran-sindiran yang sering muncul Jepang mulai khawatir kemudian mereka mengambil tindakan dengan memanggil Cak Durasin dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaanya.

Menurut saya ini merupakan fungsi seni bagi masyarakat selain untuk hiburan ternyata seni juga sebagi media aspirasi rakyat yang ingin didengar. Pada kehidupan sekarang kita bisa menyaksikan acara hiburan yang yang mengupas tentang apa yang dilakukan  pemerintah dan terkadang memberikan sindiran serta menyampaikan suaranya, sebagai contoh seperti acara Sentilan Sentilun, Provocative Provoactive di MetroTv, Bang One di Tv One, dan saya sering menjumpai acara wayang itu juga menyindir para pejabat dan aparat, tentang perilaku mereka yang korup. Dari sinilah saya menemukan aspek Sosiologi dalam buku ini.

Daftar Pustaka:

Prof. Dr. R. M. Soedarsono,Seni Pertunjuka Indonesia di Era Globalisasi (Yogyakarta; Gajah Mada UniVersity 2002)

SOSIOLOGI; Konsep dan Teori

Oleh: Prof. Dr. C. Dewi Wulansari

Editor: Aep Gunarsa

219 halaman

Diterbitkan da Dicetak oleh PT Refika Aditama Cetakan pertama Agustus 2009

ISBN 979-1073-78-3

Tulisan pada buku ini terbagi dalam enam bab, pada bab yang pertama diuraikan tentang lingkup pokok dan tujuan bahasan dasar – dasar sosiologi yang memudahkan pembaca untuk mengetahui lingkup pokok dan tujuan dasar- dasar sosiologi.

  1. Lingkup pokok bahasan
  2. Tujuan bahasan sosiologi umum

Pada bab kedua terlebih dahulu diuraikan wawasan tentang ilmu pengetahuan yang meliputi manusia sebagai pengetahuan , batasan ilmu pengetahuan, syarat- syarat tau ciri- ciri ilmu pengetahun, sumber ilmu pengetahuan dan manfaat ilmu pengetahuan, sebelum di uraikan mengenai pengenalan sosiologi  dan konsep-konsep dasar tentang sosiologi. Isinya pada bab dua disusun seperti berikut:

  1. Manusia sebagai Homo Sapiens , yang dimaksud adalah  bahwa manusia adalah makhluk berpikir.
  2. Pengetahuan dan ilmu pengetahuan, pengatahuan ialah kesan didalam pikiran manusia sebagi hasil penggunaan panca inderanya, yang berbeda dengan kepercyaan, tahayul, dan penerangan-penerangan yang keliru. Sedang ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun sistemasis atas dasar pemikiran, pengetahuan mana dapat diuji kebenarannya melalui berbagai kegiatan ilmiah seperti penelitian dan sebagainya yan sesuai bidang objeknya.
  3. Batasan ilmu pengetahuan, yang  terkandunng didalamnya adalah: (1) pengetahuan (2) penelitian (3) sistematis.
  4. Syarat-syarat atau ciri-ciri ilmu pengetahuan, syarat-syarat ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut; (1) Sistematis (2) Metodis (3) Rasional atau logis (4) Empiris (5) Umum (6) Akumulatif.
  5. Klasifikasi ilmu pengetahuan, secara umum dan konvensiaonal, berdasarkan objeknya ilmu pengetahuan dapat dibagi ke dlm 4 kelompok; (1) ilmu pengetahuan matenatika (2) ilmu pengetahuan alam (3) ilmu pengetahuan tentang ilmu perilakuan (4) ilmu pengetahuan kerohanian. Berdasar sudut penerapannya dapat dikelompokan ke dalam dua bagian yaitu (1) ilmu pengetahuan murni (2) ilmu pengetahuan terapan
  6. Sumber ilmu pengetahuan, sumberilmu pengetahuan ialah rasa keingin tahuan, filsuf besar Aristoteles mengatakan semua manusia menurut kodaratnya ingin mengerti, jadi kerinduan akan ilmu pengetahuan adalah kodrat manusia,
  7. Manfaat ilmu pengetahuan

Kemudian pada bab yang ketiga diuraikan tentang pengenalan sosiologi  yang megantar penjelasan ke arah.

  1. Batasan sosiologi, bahwa sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan, meliputi struktur sosial dan proses-proses termasuk perubahan-perubahan sosial, hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok bdengan kelompok, baik materiil, formil, statis atau dinamis. Dengan ringkas  sosiologi hakikatnya ingin mengetahui keasaan yang sebenarnya dari kehidupan masyarakat.
  2. Objek sosiologi, yang menjadi objek sosiologi adalah masyarakat.
  3. Karakteristik sosiologi sebagai ilmu pengetahuan.(1) Sosiologi masuk kedalam rumpun ilmu pengetahuan sosial (2) sosiologi bukan merupakan ilmu yang normatif, melainkan ilmu yang kategoris (3) sosiologi merupakan pure sciense (4) sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak bukan kongkrit (5) sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian umum (6) Sosiologi meripakan ilmu yang empiris dan rasional (7) sosiologi merupakan imu pengetahuan yang umum.

Dengan demikian sosiologi  sebagi ilmu pengetahuan memiliki empat unsur yaitu; (1) empiris (2) teoristis (3) kumulatif (4)non etis

  1. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan masyarakat. Disebut sebagai ilmu pengetahuan masyarakat karena sosiologi mempelajari manusia dan sesamanya yaitu kehidupan sosial  atau pergaulan hidup.
  2. Sosiologi di tengah-tengah ilmu sosial lainnya.
  3. Sejarah dan tokoh yang membidani lahirnya sosiologi.
  4. Perspektif  atau paradigma sosiologi. Dalam sosiologi perspektif yang digunakan ada empat yaitu evolusionis, interaksionis, fungsional, dan konflik
  5. Ruang lingkup sosiologi
  6. Pendekatan sosiologi
  7. Metode sosiologi. Menurut Samuek Koenig, pada dasaranya terdapat dua jenis cara kerja (metode) yaitu kuantitatif dan kualitatif, selain itu juga dapat digunakan metode induktif dan deduktif.
  8. Sosiologi di Indonesia

Pada bab yang keempat  diuraikan konsep-konsep dasar sosiologi yang meliputi penjelasan mengenai .

  1. Interaksi sosial
  1. Batasan interaksi sosial, merupakan bentuk umum  dari proses sosial dapat didefinisikan sebagai hubungan timbal  balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok.
  2. Interaksi sosial sebagai dasar proses sosial, dapat dirumuskan sebagai hubungan timbal balik antar indivu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok mengenai berbagai aspek kehidupan.
  3. Syarat interaksi sosial, adanya kontak sosial dan komunikasi sosial
  4. Ciri interaksi sosial, jumlah pelaku lebih dari seorang, adanya komunikasi, adanya suatu dimensi waktu, adanya tujuan-tujuan tertentu.
  5. Bentuk-bentuk interaksi sosial; kerja sama, pertikaian, persaingan, akomodasi.
  6. Batasan struktur sosial dan unsur-unsur pokoknya; kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial atau institusi sosial, pelapisan sosial atau stratifikasi sosial, kekuasaan dan wewenang.
  7. Kebudayaan , semua hasil karya rasa cipta manusia
  8. Stratifikasi sosial adaalah pembedaan peduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat(hierarkis)
  1. Struktur sosial.
  1. Perubahan sosial, adalah perubahan yang terjadi dalam masyarakat meliputi perubahan struktur, sistem dan organisasi sosial sebagai akibat adnya modifikasi pola-pola kehidupan manusia, yang dipengaruhi oleh adanya kebutuhan intern dan ekstern masyarakt itu sendiri.

Bab yang kelima sebagai penambahan wawasan tentang konsep-konsep dasar sosiologi  yang berikutnya diuraikan mengenai teori-teori sosiologi yang meliputi.

  1. Teori evolusi
  2. Teori fungsionalisme struktural
  3. Teori konflik
  4. Teori interaksionisme simbolik

Sebagai bab penutup bab keenam diuraikan kegunaan sosiologi pada umumnya, yang meliputi penjelasan.

  1. Kegunaan studi sosiologi dalam kehidupan sosial
  2. Kegunaan studi sosiologi dalam ilmu pengetahuan dan penelitian
  3. Kegunaan sosiologi dalam pembangunan
  4. Peran sosiologi dalam kehidupan sosial

Selain menguraikan konsep-konsep dan teori sosiologi dalam buku ini juga disertakan latihan soal pada setiap babnya untuk menguji pembaca sejauhmana memahami setiap bab yang diuraikan.