rahmat blog

Just another Blogger Fisip UNS Sites site

Kausalitas

Penelitian kuantitatif sering dilakukan dengan menetapkan adanya hubungan kausal antara konsep-konsep. Perhatian yang yang demikian dapat dipandang sebagai pemindahan cara-cara yang dilakukan di dalam ilmu kealaman, dalam upaya untuk mempelajari masyarakat.

Babbie misalnya menyatakan sebagai berikut: salah satu tujuan utma dari ilmuwan, apakah ilmuwan social yang lainnya, ialah menjelaskan mengapa hal-hal demikian adanya. Secara tipikal, kita dengan menspesifikasi sebab-sebab mengapahal-hal itu demikian: sesuatu disebabkan oleh sesuatu yang lainnya.

Demikian halnya James Davis menyatakan bahwa tujuan penelitian social adalah penegmbngan proposisi-proposisi kasual yang didukung data dan logika.

Penggunaan yang sering akan istilah variable independen dan variable dependen di dalam penelitian kuantitatif adalah bukti adanya bukti adanya kecenderungan yang luas  dalam menggunakan gagasan kausal di dalam penelitian-penelitian. Banyak buku dan diskusi yang membahas tentang bagaimana bisa mmelihat hubungan sebab-akibat. Literature atau diskusi-diskusi itu berkisar sekitar dua pendekatan utama dalam menarik hubungan kausalitas, yaitu rancangan penelitian eksperimental dan survey social.

Dalam rancangan eksperimantal, peneliti menduga bahwa suatu sebab tertentu memberikan pengaruh terhadap akibat tertentu. Misalnya penyuluhan pertanian dapat menyebabkan akibat tertentu, misalnya adopsi inovasi pertanian. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh itu, biasanya rancangan eksperimental diperkuat dengan hadirnya kelompok pengendali (control group). Dalam perkembangannya, rancangan eksperimental berkembang dan bervariasi karena dipandang  sebagai pendekatan yang dapat menentukan hubungan kausal.  Rancangan penelitian ini dipandang sebagi suatu model yang memiliki validitas internal terhadap hasil penemuannya disbanding dengan rancangan yang non eksperimental. Pendekatan-pendekatan kuantitatif yang lain dipandang lemah, tidak dilengkapi dengan model yang dapat menentukan hubngan sebab-akibat. Dan salah satunya yang dipandang sangat lemah adalah metode survey.

Di dalam survey, data dikumpulkan dalam suatu waktu yang tunggal.  Berdasarkan data yang diperolah, peneliti dapat menyatakan  apakah antara berbagai variable yang dipancarkan melalui alat ukurnya (biasanya memlalui kuisioner atau interview schedule) dapat diketahui apakah ada asosiasi atau kolerasi. Asosiasi atau kolerasi tidak menyatakan secara lansung hubungan sebab-akibat. Dengan demikian penelitian survey dianggap masih lemah dalam kemampuannya menetapkan hubungan kausalitas.

Agar dapat menetapkan hubungan kausal antara variable ada tiga hal yang harus dipenuhi. Pertama, harus ditetapkan bahwa adahubungan antar variable yang satu terhadap yang lain, dalam arti bahwa variable-variabel itu tidak independen (bebas) antara yang satu terhadap yang lainnya. Teknik-teknik statistic yang terkeneal (misalnya chi square dan kolerasi) telah tersedia untuk  membantu menetapkan ada tidaknya kolerasi. Kedua, hubungannya harus tidak secara kebetulan (non-spurious). Hal ini berarti bahwa perlu menetapkan bahwa hubngan antara dua variable, missal X dan Y, bukan hasil dari munculnya dari variable ketiga yang mendahului dan berhubungan dangan X dan Y. Ketiga, dan yang paling controversial, peneliti harus menetapkan tata urutan waktu terhadap variable yang diteliti. Peristiwa yang terjadi lebih awal dipandang sebagai variable independen, sebaliknya yang terjadi kemudian dipandang sebbagai variable dependen. Menetapkan menurut tata waktu bukanlah proses yang bersifat arbitrary menurut kehendak itu sendiri), untuk memahami daur hidup seseorang untuk  menetapkan variable mana yang mendahului variable lain. Namun ada yang keberatan dalam hal demikian ini, dimana dalam menyelidiki daur hidup bukanlah bagian yang sedang dicari untuk dijawab oleh para peneliti, sekalipunitunhal penting sebagai alat untuk menafsirkan. Salah satu teknik statistic yang terkenal did lam penelitian survey untu mengungkap arah variable-variabel yang diteliti ialahm path analysis, yang merupakan peluasan dari analisisi regresi berganda yang mungkin para analis mengkaji sumbangan dari setiap faktor kasual sementara seraya mengntrol variable-variabel yang lain.

Generalisasi

Penelitian kuantitatif biasanya menaruh perhatian pada ketetapan bahwa hasil penelitiannya pada suatu lokasi tertentu dapat digeneralisasikan pada lokasi yang lebih luas, artinya bahwa kesimpulan yan ia peroleh dari hasil penelitian terhadap orang (sampel) dan wilayah yang terbatas itu dapat ditarik kesimpulan umum yang berlaku bagi suatu populasi yang diwakili oleh sampel itu dalam wilayah yang luas. Oleh karena itu persoalan yang pokok dihadapi otlh peneliti kuantitatif ialah persoaalan presentitativitas sampel. Bernagai buku teks menganjurkan bahwa berbagai buku random sampling merupakan gejala yang banyak dipakai oleh para praktisi penelitian untuk mencapai tujuan ini.

Upaya unutuk membuat generalisasi dapat disamakan sperti yang dilakukan para peneliti ilmu kealaman. Melaluipembuktian generalisasi. Peneliti mencoba untuk menarik lebih dekat lagi kepenemuan-penemuan yang seperti dalil dalam ilmu pengetahuan. Dengan alas an ini para peneliti kuantitatif yang sering tidak mempercayai hasil-hasil penelitian kuantitatif yang hanya menggunakan satu atau dua kasus yang tigkat generalisasinya tidak diketahui. Namun demikian perlu dicatat disini bahwa penelitian ini tetap tidak mampu menghasilkan tingkat generalisasi yang sempurna. Kalau sampel itu ditarik dari suatu populasi dan itu dianggap talah dapat dipandang sebagai sifat dari popoulasi itu, satu persoalan muncul dimana kesimpulan itu tetap tidak berlaku bagi populasi yang lain. Kalau peneliti meneliti sabagian penduduk dari satu kabupaten tertentu dan kesimpulannya dapat berlaku bagi seluruh penduduk kabupaten itu, tetapi tidak dapat disimpulkan bahwa penemuannya juga berlaku bagi kabupaten-kabupaten yang lain. Bahkan banyak peneliti yang mengambil sampel atas dasar pertimbangan-pertimbangan strategis tertentu: kesempatan, keuangan, waktu yang tersedia, dan tenaga. Dengan demikian, sekalipun penelitian survey telah menggunakan random sampling dalam menarik sampelnya atas populitas tertentu, namun dia tetap dalam keterbatasan tingkat generalisasi.

Peneliti-peneliti yang menggunakan rancangan eksperimental juga terkait perhatiannya pada persoalan generalisasi juga. Bila penemuannya diberlakukan bagi kelompok diluar eksperimen, maka muncul persoalan validitas eksternal; artinya sekalipun hasil dari suatu eksperimen dianggap memiliki validitas eksternal, namun bila ditarik lebih jauh untuk melihat tingkat generalisasinya, maka validitas eksternalnya juga diragukan. Rendahnya validitas eksternal itu disebabkan misalny aoleh pengaruh pre testing baik terhadap kelompok eksperimen maupun kelompok pengendali dan dari pengaruh-pengaruh unik 9misalnya pengalaman pribadi, presepsi, pedewasaan) yang dapat dipandang dapat mempengaruhi hasil eksperimen. Segap pengaruhnyang masuk dalam eksperimen itu diberi sebutan reactive effect. Persoalan validitas eksternal itu lebih mencolok lagi di dalam rancangan eksperimental did lam laboratorium social. Banyak kritik yang melontarkan bahwa penelitian laboratorium itu bersifat artificial (dibuat-buat) dan berlangsung tidak natural apa adanya.kehidupan social sebenarnya tidak sama dengan kehidupan dalam laboratoriaum. Lepas dari kelemahannya, Mook menyatakan bahwa penelitian manusia dengan menggunakan laobratorium bukanlah bertujuan untuk memperoleh validitas hasil penelitian tetapi untuk tingkah laku yang bakal terjadi atau akibat yang dapat diramalkan yang bakal terjadi.

Lepas dari segala keterbatasan dan kelemahan, penelitian eksperimental dan survey telah menaruh perhatian  yang besar tentang persoalan generalisasi.

Disini dalam bab generalisasi saya akan membahas lebih kepada generalisasi empiris. Generalisasi empiris adalah pernyataan tentang hubungan yang disusun melalui pengamatan pertama tentang adanya suatu hubungan (didalam satu atau beberapa keadaan ) dan kemudian pengamatan itu di generalisasikan dan dikatakan bahwa hubungan-hubungan yang diamati itu berlaku didalam semua kasus atau banyak kasus.

Random Sampling

Random Sampling juga sering diartikan penarikan sampel secara acak. Ini termasuk dalam jenis metode pengambilan sampel probabilitas (probability sampling). Di dalam sampel acak setiap anggota populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi anggota sampel. Kemungkinan untuk menjadi anggota sampel berlaku bagi semua individu-individu terlepas dari persamaan-persamaan maupun perbedaan-perbedaan diantara mereka sepanjang mereka itu menjadi anggota populasi. Misalnya saja adalah Budi sebagai laki-laki yang berumur 25 tahun yang berpendidikan sarjana sedangkan Isabel adalah wanita berusia 17 tahun dan buta huruf, keduanya memiliki kesempata yang sama untuk dipilih sebagai anggota sampel sepanjang mereka itu anggota populasi.

Langkah utama didalam pemilihan responden seaca acak atau random ini adalah meneliti terlebih dahulu apakah sampling frame kita itu sudah benar, artinya adalah apakah semua anggota populasi itu telah terdaftar. Dan bagi yang telah terdaftar tidak terdaftar ulang, sebab apabila hal ini terjadi, kemungkinan untuk terpilih sebagai anggota sampel semakin besar.

Faktor lain yang perlu dipikirkan ialah kemungkinan diganti atau tidaknya anggotasampel yang tidak dapat dijangkau. Bila seseorang memulai dengan 1000 nama, pada mulanya setiap nama memeliki peluang 1/1000 untuk terpilihsebagai anggota sampel melalui random sampling. Tetapi setelah 200 orang tidak dapat dijangkau mungkin karena sedang tidak dirumah, berpergian, sakit tanpa diganti, maka setiap orang yang tersisa  yaitu 800 orang memiliki kesempata 1/800 untuk terpilih. Cara penarikan sampel tanpa penggantian anggota sampel yang tidak dapat dijangkau ini disebut simple random sampling , pengambilan sampel secara acak sederhana.

Cara yang bisa dilakukan untuk mengambil sampel sampel secara acak ialah dengan member nomor pada setiap orang atau unit sampel. Kemudian peneliti mengambil nomor dengan cara acak. Cara seperti ini sama dengan kalau kita menarik lotere. Perlu harus diingat agar kesempatan untuk terpilih adalah tetap, setiap gulungan lotere yang telah kita ambil dicatat nomor ataupun namanya, kemudian kita kembalikan lagi untuk turut serta diaduk.

Cara lain untuk menarik sampel secara acak adalah dengan menggunakan table random number. Nomor-nomor yang muncul pada table random numbers adalah hasil daari pekerjaan computer, jadi benar-benar muncul secara acak. Dalam mengunakan table itu pertama-tama setiap anggota populasi diberi nomor terlebih dahulu, misalnya sejumlah anggota populasi 900 maka diberi nomor mulai 001 sampai dengan 900. Langkah berikut ialah tidak memutuskan apakah kita akan memilih nomor-nomor yang menurut kolom (menurun) ataukah menurut baris (mendatar), hal ini bukanlah menjadi soal. Kemudian kita tentukan menurut kehendak kita dimana kita akan memulainya. Pada table random numbers ada lima digit angka, oleh karena misalnyabanyak anggota populasi hanya 900 maka yang kita perlukan adalah tiga angka. Kita ambil tiga angka dari belakang. Bila kita mendapatkan angka 95701 maka hal itu berarti responden nomor 701 terpilih sebagai anggota sampel. Tetapi bila kita menemukan tiga angka terakhir diatas 900, misalnya 03972, maka tidak dapat kita pakai, sebab jumalah maksimum populasi yang dimiliki hanya 900. Barang kali kita mendapatkan angka yang sama. Bila terjadi demikian makaharus kita abaikan, dan kita bekerja terus hingga jumlah yang kita butuhkan terpenuhi.

Salah satu kerugian dari cara pengambilan sampel secara random numbers (bilangan-bilangan random) ialah bila sampel yang kita perlukan besar, berkali-kali kita menemukan angka yang sama menyebabkan diperlukannya ketelitian agar tidak tercatat ulang. Dengan demikian akan memakan waktu yang lebih.

No Comments :(