rahmat blog

Just another Blogger Fisip UNS Sites site

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

seri publikasi

Mata kuliah Dasar-dasar Logika

Judul : Orang Boyan Bawean

Perubahan Lokal dalam Tranformasi global

Nama: Rahmat Sugiyarto    NIM : D0310054

Dosen pengampu: Akhmad Ramdhon

Review  buku:

Orang Boyan Bawean Perubahan Lokal dalam Transformasi Global

Penulis: Dr. Drajat Tri  Kartono, M.Si.

ISBN 979-3456-03-5

Review

Buku ini merupakan penulisan kembali laporan penelitian untuk disertasi di Universitas Indonesia. Penelitian terhadap realitas suatu pulau kecil di pulau jawa bernama Bawean. Pulau ini terletak antara radius kira-kira 80 mil sebelah utara Surabaya karena pulau yang terpencil itu sebagian besar penduduknya baik yang berada di puncak gunung maupun di daerah pinggiran pantai telah berpengalaman mencari nafkah dengan menjelajah mancanegara. Padahal dimana di desa si penulis tinggal listrik hanya nyala antara jam enam sampai jam dua belas malam.  Pada saat itu penulis sendiri belum pernah keluar negeri, rasa heran tersebut membawa penulis untuk memulai pengkajian.

Buku ini bagian pokoknya ada terdiri dari empat bagian yaitu sebagai berikut:

Bagian pertama terdir dari dua bab (Bab I dan II) membahas tentang masyarakat Bawean dan Boyan serta membahas tentang Peran Negara dan Respon Migran. Bab I memberikan gambaran konstektual dari Pulau Bawean didlam kajian mengenai dinamika ekonomi masyarakat migran dimulai, serta karakteristik orang Bawean di Malysia(Kuala Lumpur dan Selangor) atau biasa dikenali dengan sebutan Boyan. Topografi pulau Bawean adalah berbukit-bukit menurut pengamatan Jawa Pos (19 oktober 1990) terdapat sekitar 99 bukit, di Pulau Bawean dikenal sebagai pulau bukit dilihat dari kejauhan terlihat bukit-bukit lancip di pulau tersebut bukit tersebut adalah tanah kapur dengan kondisi tanah yang tidak begitu subur karena erosi dan penebangan hutan sejak dulu sehingga kurang menguntungkan apabila untuk kegiatan pertanian. Bab II membahas tentang konteks pola migrasi orang Bawean yang berada diluar pola yang dikembangkan oleh negara (terutama Indonesia). Karena keadaan alam yang kurang subur kemudian sebagian besar dari panduduk Bawean adalah bermata pencaharian sebagai peteni, tapi merka tidak bisamenjual keluar pulau karena biaya transport yang melebihi harga hasil panen maka mereka terpaksa mencari alternati lain untuk menjamin hidupnya salah satunya yauitu dengan kerja di luar negeri, bagi pemerintah hal ini menjadi penting karena para TKI  yang bekerja diluar negeri menghasilkan devisa bagi negara yang sangat besar. Berdasarkan Depnaker tahun 1995 para TKI menghasilkan devisa bagi negara mencapai 830 juta US$. Melihat situasi ini pemerintah mulai mengambil kebijakan mengenai tenaga kerja mulai dari menjamin perlindungan, penyaluran tenaga kerja , sertifikasi bahkan satya menilai dengan digalakkannya pendidikan kejuruan atau SMK juga sebagai pembekalan kepada calon-calon TKI atau pekerja domestik. Posisi penjelasan ini penting karena faktor-faktor banyak terlibat tidak saja pada saat mengambil keputusan tetapi juga dalam proses perjalanan dan kehidupan di Malaysia.

Bagian kedua membahas tentang dinamika kehidupan ekonomi masyarakat Bawean yang tidak berbasis pada sumber daya ekonomi lokal tetapi memakai migrasi kerja keluar negeri (Malaysia) sebagai alternatif untuk menjamin kehidupan dan kesejahteraan ekonomi. Pada bagian ini dibahas empat konsep penting sebagai pendekatan (teori) yaitu konstruksi sosial, modal sosial, jaringan sosial, dan path dependensi. Masing-masing konsep dideskripsikan dalam bab III bahwa selain untuk pemenuhan kebuthan hidup merantau juga sebagai budaya otang Bawean, lebih lanjutnya hal ini dilakukan penelitian oleh Vrendenberg pada tahun 1988 beliau menuliskan bebebrapa faktor penyebab mereka merantau diantaranya adalah kesulitan ekonomi daerah asal dan daya tarik di daerah tujuan perantaauan, IV ikatan keluarga dalam ekonomi merantau. Keluarga mempunyai peran penting dalam mengambilan keputusan untuk bekerja diluar negeri dan selama di negara tujuan keluarga peannya sangat penting. Disini dijelaskan sistemkeluarga, kemudian selayaknya kluarga yang ditinggal lama rentan akan perselingkuhan terutama istri berpeluang untuk selingkuh karena secara kebuthan batiniah tidak terrpenuhi, kemuydian perceraian, namun hal ini jarang terjadi di desa Gunung maupun sangkapura hal ini lebih sering terjadi di daerah pelosok yang jauh dari kota , V Komersialisasi Lembaga Pengantar dan Ketiadaan Modal Sosial, dalam proses ini  migrasi tenaga kerja dari pulalu Bawean sampai ke Malaysia, istilah pengawal cukup penting untuk dipahami secara terpisah. Hal ini terkait dengan peran penting dari pengawal sebagi lembaga “penghubung di dalam proses migrasi tenaga kerja” antara migran di Pulau Bawean dan pasar tenaga kerja di Malaysia. Pada umumnya, para migran  yang baru pertama kali merantau keluar negeri dan yang tidak punya modal serta sanak saudara, merasakan nilai penting pengawal yang mengantar mereka ke Malaysia

Secara sederhana pengawal adalah pekerjaan seseorang lebih tepat digambarkan sebagai suatu komplek kegiata atau jaringan.  VI Ekonomi Lokal dan ekonomi Migran, sumber mata pencaharian dari ekonomi mancanegara atau merantau telah menunjukan hasil di Bawean. Bentuk hasil ini yang jelas dapat dilihat adalah runah-runah tembok dan berlantai tegel serta perabot rumah tangga yang berkualitas. Dalam penjelasan sebelumnya telah ditunjukan bahwa perkembangan ini didukung konstruksi sosial masyarakat yang terkait dengan misi kesejahteraan keluarga atau dusun dan penghargaan terhadap hasil merantau. Konstruksi sosial ini diperkuat dengan jalur meantau melalui keluarga, telah memberikan kontribusi yang besar dalam peningkatan pengiriman tenaga kerja dari Bawean keluar negeri. Tambahan unutk melengkapi diskripsi ini dikemukakan pada bab VII yang secara khusus menjelaskan tentang strategi atau penyesesuaian sosial (organisasi, semangat kerja dan perilaku) orang Bawean dalam usaha bertahan dalam kompetisi di pasar tenaga kerja tidak terampil di Malaysia, tambahan ini penting karena didalamnya tergambar strategi untuk perlindungan dan jaminan sosial tenaga kerja diluar negeri yang selama ini menajdi masalah tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Bagian ketiga membahas mengenai dampak migrasi tenaga kerja internasioanal yang dilakukan orang Bawean terhadap perkembangan ekonomi masyarakat di Pulau Bawean. Bagian ini mengambil judul tentang kota sebagi suatu penonjolan terhadap kecenderungan sifat komsutif yang berkembang baik dalam segi kegiatan komsumsi maupan produktif (investai). Perkembangan karakteristik ini yang mendorong berkembangnya Kota Sangkapura di Bawean. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah setelah menghasilkan dari hasil merantau kemudian hasilnya atau sering sebutannya remitanakan digunakan sebagai investasi unutk usaha dan konsumsi, kedua hal tersebut secara makro berdampak pada perkembangan urbanisme (perkembangan kehidupan dierkotaan) di Bawean. Didalamnya juga dibahas tentang dampak di tingkat yang lebih kecil yaitu keluarga.

Bagian keempat adalah kesimpulan yang didalamnya didiskusikan tentang kehidupan ekonomi masyarakat Bawean dengan pendekatan sosiologi ekonomi. Hal ini penting dalam diskusi tersebut adalah diskusi tentang embeddedness (ketertambatan) ekonomi dalam proses sosial. Ekonomi yang dilihat secara menyuluruh tidak hanya saja sebagai transaksi produsen dan konsumen atau tenaga kerja dan  majikan. Disamping itu, diskusi ini juga membuka cakrawala untuk mengkaji fenomena migrasi tenaga kerja internasional tidak saja sebagai gejala demografi tetapi juga sosiologi ekonomi.

No Comments :(