rahmat blog

Just another Blogger Fisip UNS Sites site

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

seri publikasi

Mata kuliah Dasar-dasar Logika

Judul : BALI PASCAKOLONIAL

Jejak Kekerasakn dan Sikap Kajian Budaya

Nama: Rahmat Sugiyarto    NIM : D0310054

Dosen pengampu: Akhmad Ramdhon

review buku:

BALI PASCAKOLONIAL

Jejak  Kekerasan dan Sikap Kajian Budaya

Penulis: I Ngurah Irawan

ISBN 978-979-3037-36-5

Review

Buku ini adalah kumpulan tulisan penulis yang sebagian besar dipublikasikan pada Jurnal Kajian Budaya, Program Magister dan Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana dan beberapa kertas kerja untuk kepentingan seminar dan konferensi. Beberapa tema-tema tulisan di jurnal tersebut masih seputar sejarah sosial, politik kebudayaan, dan  genealogi kekerasan yang di tekuni penulis sejak 2002. Penulis mengembangkan fokus kajian kepada kelompok-kelompok yang terpinggirkan, para subaltern yang berada di tepi pasang surut pergolakan politik kebudayaan dan kekerasan di Bali. Ide dasar buku ini merekasikan tiga poin penting yaitu (Bali) pascakolonial, kekrasan, dan kajian budaya.

Bali pascakolonial menuju pada sebuah perdebatan teoritik dan empirik tentang bingkai perspektif melihat Bali hingga saat ini. Konteks pascakolonial sangat penting diajukan untuk melihat Bali bukan sebuah warisan yang steril dari relasi kuasa. Bingkai pascakolonial memperlihatkan perspektif bagaimana melihat negara bekas jajahan dari pembongkaran warisan praktik kolonialisasi tersebut. Warisan praktik kolonialisasi telah memendam dan tercermin dalam kehidupan negara jajahan, bahkan diadopsi oleh masyarakat terjajah untuk mempraktikan kolonialisasi sesama mereka. Warisan praktik kolonialisasi inilah yang coba untuk dibongkar oleh perspektif pascakolonial.

Bali mencatatkan sejarah panjang kolonialisasi yang meninggalkan begitu banyak wearisan hingga kini begitu kuat dan lestari. Warisan rezim kolonial itulah yang dianggap oleh sebagian besar masyarakat Bali sebagai warisan yang “adiluhung”. Warisan yang diantaranya tersebar dalam adat-istiadat, sistem sosial, desa adat, nilai-nilai, budaya, dan hukum mendarah daging dalam kehidupan rakyat Bali. Hal ini diuraikan dalam bab V, jejaring kuasa dalam pembentukan ke-Bali-an yang dimulai dari praktik kolonialisasi di Bali. Salah satu bagiannya menguraikan tentang ideologi Baliseering yang merupakan salah satu ideologi rezim kolonial untul membuat Bali.

Rezim kolonial berusaha melakukan proyek rekayasa penciptaan budaya Bali dengan merekayasa dan mengkonsumsi budayanya sekaligus. Hal ini menunjukan bagaimana secara lebih luas identitas tentang Bali yang diwariska hingga kini dirancang olah kekuasaan rezim kolonial. Penciptaan ideologi konservasi mentradisikan Bali hanya menetapkan Bali sebagai obyek negara jajahan dalam praktik kolonialisasi. Praktik penjajahan kolonial bukan hanya melakukan penjajahan secara fisik dalam menaklukan wilayah, tapi juga melakkukan penguasaan dan penciptaan atas lingkungan sosial budaya negara jajahan tersebut. Praktik kolonialisasi menjadi semakin canggih dari kolonialisasi tradisional ke kolonialisasi modern. Kolonialisme modern ditandai dengan dua ciri penting yaitu: (a)daerah, daerah koloni tidak hanya membayar upeti, tetapi struktur perekonomian daerah koloni (dengan manusia dan alamnya) dirombak demi kepentingan negara induk. (b) daerah-daerah koloni menjadi pasar yang dipaksamengonsumsi produk-produk negara penjajah. Dalam kolonialisme modern, kemampuan manusia dan sumber alam dari daerah koloni diliarkan sehingga keuntungannya,oleh sistem yang bekerjaakan selalu kembali ke negara induk. Dengan sistem ekonomi seperti ini dapat dipahami bahwa sistem perekonomian kolonial sangat berperan dalam menumbuhkan kapitalisme dan industri Eropa. Dengan kata lain, kolonialisme menjadi bidan yang membantu kelahiran kapitalisme Eropa.

Penjajahan kolonialisasi di Bali jelas pada tataran ideologi, sebagai jajahan secara pemikiran . ia membangun sebuah pembedaan yang menarik dan agak tendensius diantara dua tipe kolonialisme yang secara kronologis berbeda. Pertama, pemikira yang relatif sederhana yang menyangkut fokusnya pada penaklukan fisik banyak teori, sedangkan yang kedua lebih mengacu pada komitmennya terhadap penaklukan dan penjelajahan pikiran ,jiwa, dan budaya. Jika kolonialisme pertama lebih keras dan juga lebih transparan dalam swakepentingan, ketamakan dan keserakahanya. Sebalikyan dan yang lebih membingungkan model kedua justru dipprakarsai oleh kaum rasionalis, modernis, dan liberal yang berpendapat bahwa imperialisme merupakan pertanda menuju dunia yang tak beradap.

Represenasi kekerasan dan ekspresi keterdesakan secara simbolik terjadi pasca bom 2002 dan 2005. Momen kekerasan menempatkan peristiwa yang sangat berat yang menundang keprihaitnan dunia internasional, sementara kekerasan pembantaian massal 1965 dikubur dalam-dalam, berusaha dilupakan dan disimpan dalam glamornya pariwissata yang menjadi pahlawan pembangunan Bali.

Kemudian pada bagian akhir dari buku ini menjelaskan jebakan kajian budaya yang sebelumnya anti disiplin menjadi disiplin malah menjadi bumerang sendiri. Sebagai sebuah disiplin yang ditawarkan universitas, ia menjadi bagian kemapanan akademik dan struktur kekuasaan lembaga pendidikan. Pada akhirnya kajian budaya menjadi terlalu teknis, dangkal, dan tercabut dari akarnya yaitu kehidupan dan realitas orang-orang yang tertindas yang seharusnya diberdayakan, dibuat sebagai strategi perlawanan dan rejuangan hidup.

Kontaminasi pendisiplinan dalam kuasa akademik dan struktur kekuasaan universitas kemudian menyeret kajian budaya sabagai salah satu bagian dari industrialisasi pendidikan. Kajian budaya dalam salah satu sindiran dinyatakan sebagai tong sampah, bercampurnya seluruh ilmu tanpa pondasi yang kokoh terhadap pemahaman teoritik, ideologis, serta politis dari ilmu ini. Yang terjadi kemudian adalah pengukuhan elitisme kelas menengah melalui institusi pendidikan dan ritual birokratisme pendidikan.

No Comments :(