rahmat blog

Just another Blogger Fisip UNS Sites site

Pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan  kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif, lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan hasil akhir; oleh karena itu urut-urutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis.

Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variable masing-masing.  Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesa dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya.

  • Jika kita menggunakan pendekatan kualitatif, maka dasar teori sebagai pijakan ialah adanya interaksi simbolik dari suatu gejala dengan gejala lain yangditafsir berdasarkan pada budaya yang bersangkutan dengan cara mencari makna semantis universal dari gejala yang sedang diteliti. Pada mulanya teori-teori kualitatif muncul dari penelitian-penelitian antropologi , etnologi, serta aliran fenomenologi dan aliran idealisme. Karena teori-teori ini bersifat umum dan terbuka maka ilmu social lainnya mengadopsi sebagai sarana penelitiannya.
  • Lain halnya dengan pendekatan kuantitatif, pendekatan ini berpijak pada apa yang disebut dengan fungsionalisme struktural, realisme, positivisme, behaviourisme dan empirisme yang intinya menekankan pada hal-hal yang bersifat kongkrit, uji empiris dan fakta-fakta yang nyata. T

Tujuan

  • Tujuan utama penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif ialah mengembangkan pengertian, konsep-konsep, yang pada akhirnya menjadi teori, tahap ini dikenal sebagai “grounded theory research”.
  • Sebaliknya pendekatan kuantitatif bertujuan untuk menguji teori, membangun fakta, menunjukkan hubungan antar variable, memberikan deskripsi statistik, menaksir dan meramalkan  hasilnya.

Melihat sifatnya, pendekatan kualitatif desainnya bersifat umum, dan berubah-ubah / berkembang sesuai dengan situasi di lapangan. Kesimpulannya, desain hanya digunakan sebagai asumsi untuk melakukan penelitan, oleh karena itu  desain harus bersifat fleksibel dan terbuka.

Lain halnya dengan desain penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif, desainnya harus terstruktur, baku, formal dan dirancang sematang mungkin sebelumnya. Desainnya bersifat spesifik dan detil karena desain merupakan suatu rancangan penelitian yang akan dilaksanakan sebenarnya. Oleh karena itu, jika desainnya salah, hasilnya akan menyesatkan. Contoh desain kuantitatif: ex post facto dan desain experimental yang mencakup diantaranya one short case study, one group pretest, posttest design, Solomon four group design

  • Pada pendekatan kualitatif, data bersifat deskriptif, maksudnya data dapat berupa gejala-gejala yang dikategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, artefak dan catatan-catatan lapangan pada saat penelitian dilakukan.
  • Sebaliknya penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif datanya bersifat kuantitatif / angka-angka statistik ataupun koding-koding yang dapat dikuantifikasi. Data tersebut berbentuk variable-variabel dan operasionalisasinya dengan skala ukuran tertentu, misalnya skala nominal, ordinal, interval dan ratio.

l  Sampel kecil merupakan ciri pendekatan kualitatif karena pada pendekatan kualitatif penekanan pemilihan sample didasarkan pada kualitasnya bukan jumlahnya. Oleh karena itu, ketepatan dalam memilih sample merupakan salah satu kunci keberhasilan utama untuk menghasilkan penelitian yang baik. Sampel juga dipandang sebagai sample  teoritis dan tidak representatif

l   Sedang pada pendekatan kuantitatif, jumlah sample  besar, karena aturan statistik mengatakan bahwa semakin sample besar akan semakin merepresentasikan kondisi riil. Karena pada umumnya pendekatan kuantitatif membutuhkan sample yang besar, maka stratafikasi sample diperlukan . Sampel biasanya diseleksi secara random. Dalam melakukan penelitian, bila perlu diadakan kelompok pengontrol untuk pembanding sample yang sedang diteliti. Ciri lain ialah penentuan jenis variable yang akan diteliti, contoh, penentuan variable yang mana yang ditentukan sebagai variable bebas, variable tergantung, varaibel moderat, variable antara, dan variabel kontrol. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat melakukan pengontrolan  terhadap variable pengganggu.

n  Jika peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, maka yang bersangkutan akan menggunakan teknik observasi atau dengan melakukan observasi terlibat langsung, seperti yang dilakukan oleh para peneliti bidang antropologi dan etnologi sehingga peneliti terlibat langsung dengan yang diteliti. Dalam praktiknya, peneliti akan melakukan review terhadap berbagai dokumen, foto-foto dan artefak yang ada. Interview yang digunakan ialah interview tertutup.

n   Jika pendekatan kuantitatif digunakan maka teknik yang dipakai akan berbentuk observasi terstruktur, survei dengan menggunakan kuesioner, eksperimen dan eksperimen semu. Dalam melakukan interview, biasanya diberlakukan interview terstruktur untuk mendapatkan seperangkat data yang dibutuhkan. Teknik mengacu pada tujuan penelitian dan jenis data yang diperlukan.

Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti tidak mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan yang dibangun didasarkan pada saling kepercayaan. Dalam praktiknya, peneliti melakukan hubungan dengan yang diteliti secara intensif. Apabila sample itu manusia, maka yang menjadi responden diperlakukan sebagai partner bukan obyek penelitian.

Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif peneliti mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan ini seperti hubungan antara subyek dan obyek. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat objektivitas yang tinggi. Pada umumnya penelitiannya  berjangka waktu pendek.

Analisa data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep dan pembangunan suatu teori baru, contoh dari model analisa kualitatif ialah analisa domain, analisa taksonomi, analisa komponensial, analisa tema kultural, dan analisa komparasi konstan (grounded theory research).

Analisa dalam penelitian kuantitatif bersifat deduktif, uji empiris teori yang dipakai dan dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik, seperti korelasi, uji t, analisa varian dan covarian, analisa faktor, regresi linear dll.nya.

Kedua pendekatan tersebut masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan:

  • Pendekatan kualitatif banyak memakan waktu, reliabiltasnya dipertanyakan, prosedurnya tidak baku, desainnya tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar dan pada akhirnya hasil penelitian dapat terkontaminasi dengan subyektifitas peneliti.
  • Pendekatan kuantitatif memunculkan kesulitan dalam mengontrol variable-variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap proses penelitian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Untuk menciptakan validitas yang tinggi juga diperlukan kecermatan dalam proses penentuan sample, pengambilan data dan penentuan alat analisanya.

Penelitian Eksploratif

Penelitian eksploratif adalah salah satu jenis penelitian sosial yang tujuannya untuk memberikan sedikit definisi atau penjelasan mengenai konsep atau pola yang digunakan dalam penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti belum memiliki gambaran akan definisi atau konsep penelitian. Peneliti akan mengajukan what untuk menggali informasi lebih jauh. Sifat dari penelitian ini adalah kreatif, fleksibel, terbuka, dan semua sumber dianggap penting sebagai sumber informasi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjadikan topik baru lebih dikenal oleh masyarakat luas, memberikan gambaran dasar mengenai topik bahasan, menggeneralisasi gagasan dan mengembangkan teori yang bersifat tentatif, membuka kemungkinan akan diadakannya penelitian lanjutan terhadap topik yang dibahas, serta menentukan teknik dan arah yang akan digunakan dalam penelitian berikutnya.

Penelitian deskriptif

Penelitian diskriptif  adalah salah satu jenis penelitian yang tujuannya untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial atau hubungan antara fenomena yang diuji Dalam penelitian ini, peneliti telah memiliki definisi jelas tentang subjek penelitian dan akan menggunakan pertanyaan who dalam menggali informasi yang dibutuhkan. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah menghasilkan gambaran akurat tentang sebuah kelompok, menggambarkan mekanisme sebuah proses atau hubungan, memberikan gambaran lengkap baik dalam bentuk verbal atau numerikal, menyajikan informasi dasar akan suatu hubungan, menciptakan seperangkat kategori dan mengklasifikasikan subjek penelitian, menjelaskan seperangkat tahapan atau proses, serta untuk menyimpan informasi bersifat kontradiktif mengenai subjek penelitian.

Penelitian Eksplanatori

Penelitian eksplanatoris adalah penelitian bertujuan untuk menguji suatu teori atau hipotesis guna memperkuat atau bahkan menolak teori atau hipotesis hasil penelitian yang sudah ada.

Penelitian eksploratori bersifat mendasar dan bertujuan untuk memperoleh keterangan, informasi, data mengenai hal-hal yang belum diketahui. Karena bersifat mendasar, penelitian ini disebut penjelajahan (eksploration). Penelitian eksploratori dilakukan apabila peneliti belum memperoleh data awal sehingga belum mempunyai gambaran sama sekali mengenai hal yang akan diteliti. Penelitian eksploratori tidak memerlukan hipotesis atau teori tertentu. Peneliti hanya menyiapkan beberapa pertanyaan sebagai penuntun untuk memperoleh data primer berupa keterangan, informasi, sebagai data awal yang diperlukan.

Daftar Pustaka

~Mantra, Ida Bagus. 2004. Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial. Pustaka Pelajar.

~David Nachmias & Chava Nachmias, Research Methods in the Social Sciences, Third Edition, New York: St. Martin’s Press

~ Slamet Y. Metode Penelitin Sosial. Surakarta LPP dan UNS Press. 2006

Kausalitas

Penelitian kuantitatif sering dilakukan dengan menetapkan adanya hubungan kausal antara konsep-konsep. Perhatian yang yang demikian dapat dipandang sebagai pemindahan cara-cara yang dilakukan di dalam ilmu kealaman, dalam upaya untuk mempelajari masyarakat.

Babbie misalnya menyatakan sebagai berikut: salah satu tujuan utma dari ilmuwan, apakah ilmuwan social yang lainnya, ialah menjelaskan mengapa hal-hal demikian adanya. Secara tipikal, kita dengan menspesifikasi sebab-sebab mengapahal-hal itu demikian: sesuatu disebabkan oleh sesuatu yang lainnya.

Demikian halnya James Davis menyatakan bahwa tujuan penelitian social adalah penegmbngan proposisi-proposisi kasual yang didukung data dan logika.

Penggunaan yang sering akan istilah variable independen dan variable dependen di dalam penelitian kuantitatif adalah bukti adanya bukti adanya kecenderungan yang luas  dalam menggunakan gagasan kausal di dalam penelitian-penelitian. Banyak buku dan diskusi yang membahas tentang bagaimana bisa mmelihat hubungan sebab-akibat. Literature atau diskusi-diskusi itu berkisar sekitar dua pendekatan utama dalam menarik hubungan kausalitas, yaitu rancangan penelitian eksperimental dan survey social.

Dalam rancangan eksperimantal, peneliti menduga bahwa suatu sebab tertentu memberikan pengaruh terhadap akibat tertentu. Misalnya penyuluhan pertanian dapat menyebabkan akibat tertentu, misalnya adopsi inovasi pertanian. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh itu, biasanya rancangan eksperimental diperkuat dengan hadirnya kelompok pengendali (control group). Dalam perkembangannya, rancangan eksperimental berkembang dan bervariasi karena dipandang  sebagai pendekatan yang dapat menentukan hubungan kausal.  Rancangan penelitian ini dipandang sebagi suatu model yang memiliki validitas internal terhadap hasil penemuannya disbanding dengan rancangan yang non eksperimental. Pendekatan-pendekatan kuantitatif yang lain dipandang lemah, tidak dilengkapi dengan model yang dapat menentukan hubngan sebab-akibat. Dan salah satunya yang dipandang sangat lemah adalah metode survey.

Di dalam survey, data dikumpulkan dalam suatu waktu yang tunggal.  Berdasarkan data yang diperolah, peneliti dapat menyatakan  apakah antara berbagai variable yang dipancarkan melalui alat ukurnya (biasanya memlalui kuisioner atau interview schedule) dapat diketahui apakah ada asosiasi atau kolerasi. Asosiasi atau kolerasi tidak menyatakan secara lansung hubungan sebab-akibat. Dengan demikian penelitian survey dianggap masih lemah dalam kemampuannya menetapkan hubungan kausalitas.

Agar dapat menetapkan hubungan kausal antara variable ada tiga hal yang harus dipenuhi. Pertama, harus ditetapkan bahwa adahubungan antar variable yang satu terhadap yang lain, dalam arti bahwa variable-variabel itu tidak independen (bebas) antara yang satu terhadap yang lainnya. Teknik-teknik statistic yang terkeneal (misalnya chi square dan kolerasi) telah tersedia untuk  membantu menetapkan ada tidaknya kolerasi. Kedua, hubungannya harus tidak secara kebetulan (non-spurious). Hal ini berarti bahwa perlu menetapkan bahwa hubngan antara dua variable, missal X dan Y, bukan hasil dari munculnya dari variable ketiga yang mendahului dan berhubungan dangan X dan Y. Ketiga, dan yang paling controversial, peneliti harus menetapkan tata urutan waktu terhadap variable yang diteliti. Peristiwa yang terjadi lebih awal dipandang sebagai variable independen, sebaliknya yang terjadi kemudian dipandang sebbagai variable dependen. Menetapkan menurut tata waktu bukanlah proses yang bersifat arbitrary menurut kehendak itu sendiri), untuk memahami daur hidup seseorang untuk  menetapkan variable mana yang mendahului variable lain. Namun ada yang keberatan dalam hal demikian ini, dimana dalam menyelidiki daur hidup bukanlah bagian yang sedang dicari untuk dijawab oleh para peneliti, sekalipunitunhal penting sebagai alat untuk menafsirkan. Salah satu teknik statistic yang terkenal did lam penelitian survey untu mengungkap arah variable-variabel yang diteliti ialahm path analysis, yang merupakan peluasan dari analisisi regresi berganda yang mungkin para analis mengkaji sumbangan dari setiap faktor kasual sementara seraya mengntrol variable-variabel yang lain.

Generalisasi

Penelitian kuantitatif biasanya menaruh perhatian pada ketetapan bahwa hasil penelitiannya pada suatu lokasi tertentu dapat digeneralisasikan pada lokasi yang lebih luas, artinya bahwa kesimpulan yan ia peroleh dari hasil penelitian terhadap orang (sampel) dan wilayah yang terbatas itu dapat ditarik kesimpulan umum yang berlaku bagi suatu populasi yang diwakili oleh sampel itu dalam wilayah yang luas. Oleh karena itu persoalan yang pokok dihadapi otlh peneliti kuantitatif ialah persoaalan presentitativitas sampel. Bernagai buku teks menganjurkan bahwa berbagai buku random sampling merupakan gejala yang banyak dipakai oleh para praktisi penelitian untuk mencapai tujuan ini.

Upaya unutuk membuat generalisasi dapat disamakan sperti yang dilakukan para peneliti ilmu kealaman. Melaluipembuktian generalisasi. Peneliti mencoba untuk menarik lebih dekat lagi kepenemuan-penemuan yang seperti dalil dalam ilmu pengetahuan. Dengan alas an ini para peneliti kuantitatif yang sering tidak mempercayai hasil-hasil penelitian kuantitatif yang hanya menggunakan satu atau dua kasus yang tigkat generalisasinya tidak diketahui. Namun demikian perlu dicatat disini bahwa penelitian ini tetap tidak mampu menghasilkan tingkat generalisasi yang sempurna. Kalau sampel itu ditarik dari suatu populasi dan itu dianggap talah dapat dipandang sebagai sifat dari popoulasi itu, satu persoalan muncul dimana kesimpulan itu tetap tidak berlaku bagi populasi yang lain. Kalau peneliti meneliti sabagian penduduk dari satu kabupaten tertentu dan kesimpulannya dapat berlaku bagi seluruh penduduk kabupaten itu, tetapi tidak dapat disimpulkan bahwa penemuannya juga berlaku bagi kabupaten-kabupaten yang lain. Bahkan banyak peneliti yang mengambil sampel atas dasar pertimbangan-pertimbangan strategis tertentu: kesempatan, keuangan, waktu yang tersedia, dan tenaga. Dengan demikian, sekalipun penelitian survey telah menggunakan random sampling dalam menarik sampelnya atas populitas tertentu, namun dia tetap dalam keterbatasan tingkat generalisasi.

Peneliti-peneliti yang menggunakan rancangan eksperimental juga terkait perhatiannya pada persoalan generalisasi juga. Bila penemuannya diberlakukan bagi kelompok diluar eksperimen, maka muncul persoalan validitas eksternal; artinya sekalipun hasil dari suatu eksperimen dianggap memiliki validitas eksternal, namun bila ditarik lebih jauh untuk melihat tingkat generalisasinya, maka validitas eksternalnya juga diragukan. Rendahnya validitas eksternal itu disebabkan misalny aoleh pengaruh pre testing baik terhadap kelompok eksperimen maupun kelompok pengendali dan dari pengaruh-pengaruh unik 9misalnya pengalaman pribadi, presepsi, pedewasaan) yang dapat dipandang dapat mempengaruhi hasil eksperimen. Segap pengaruhnyang masuk dalam eksperimen itu diberi sebutan reactive effect. Persoalan validitas eksternal itu lebih mencolok lagi di dalam rancangan eksperimental did lam laboratorium social. Banyak kritik yang melontarkan bahwa penelitian laboratorium itu bersifat artificial (dibuat-buat) dan berlangsung tidak natural apa adanya.kehidupan social sebenarnya tidak sama dengan kehidupan dalam laboratoriaum. Lepas dari kelemahannya, Mook menyatakan bahwa penelitian manusia dengan menggunakan laobratorium bukanlah bertujuan untuk memperoleh validitas hasil penelitian tetapi untuk tingkah laku yang bakal terjadi atau akibat yang dapat diramalkan yang bakal terjadi.

Lepas dari segala keterbatasan dan kelemahan, penelitian eksperimental dan survey telah menaruh perhatian  yang besar tentang persoalan generalisasi.

Disini dalam bab generalisasi saya akan membahas lebih kepada generalisasi empiris. Generalisasi empiris adalah pernyataan tentang hubungan yang disusun melalui pengamatan pertama tentang adanya suatu hubungan (didalam satu atau beberapa keadaan ) dan kemudian pengamatan itu di generalisasikan dan dikatakan bahwa hubungan-hubungan yang diamati itu berlaku didalam semua kasus atau banyak kasus.

Random Sampling

Random Sampling juga sering diartikan penarikan sampel secara acak. Ini termasuk dalam jenis metode pengambilan sampel probabilitas (probability sampling). Di dalam sampel acak setiap anggota populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi anggota sampel. Kemungkinan untuk menjadi anggota sampel berlaku bagi semua individu-individu terlepas dari persamaan-persamaan maupun perbedaan-perbedaan diantara mereka sepanjang mereka itu menjadi anggota populasi. Misalnya saja adalah Budi sebagai laki-laki yang berumur 25 tahun yang berpendidikan sarjana sedangkan Isabel adalah wanita berusia 17 tahun dan buta huruf, keduanya memiliki kesempata yang sama untuk dipilih sebagai anggota sampel sepanjang mereka itu anggota populasi.

Langkah utama didalam pemilihan responden seaca acak atau random ini adalah meneliti terlebih dahulu apakah sampling frame kita itu sudah benar, artinya adalah apakah semua anggota populasi itu telah terdaftar. Dan bagi yang telah terdaftar tidak terdaftar ulang, sebab apabila hal ini terjadi, kemungkinan untuk terpilih sebagai anggota sampel semakin besar.

Faktor lain yang perlu dipikirkan ialah kemungkinan diganti atau tidaknya anggotasampel yang tidak dapat dijangkau. Bila seseorang memulai dengan 1000 nama, pada mulanya setiap nama memeliki peluang 1/1000 untuk terpilihsebagai anggota sampel melalui random sampling. Tetapi setelah 200 orang tidak dapat dijangkau mungkin karena sedang tidak dirumah, berpergian, sakit tanpa diganti, maka setiap orang yang tersisa  yaitu 800 orang memiliki kesempata 1/800 untuk terpilih. Cara penarikan sampel tanpa penggantian anggota sampel yang tidak dapat dijangkau ini disebut simple random sampling , pengambilan sampel secara acak sederhana.

Cara yang bisa dilakukan untuk mengambil sampel sampel secara acak ialah dengan member nomor pada setiap orang atau unit sampel. Kemudian peneliti mengambil nomor dengan cara acak. Cara seperti ini sama dengan kalau kita menarik lotere. Perlu harus diingat agar kesempatan untuk terpilih adalah tetap, setiap gulungan lotere yang telah kita ambil dicatat nomor ataupun namanya, kemudian kita kembalikan lagi untuk turut serta diaduk.

Cara lain untuk menarik sampel secara acak adalah dengan menggunakan table random number. Nomor-nomor yang muncul pada table random numbers adalah hasil daari pekerjaan computer, jadi benar-benar muncul secara acak. Dalam mengunakan table itu pertama-tama setiap anggota populasi diberi nomor terlebih dahulu, misalnya sejumlah anggota populasi 900 maka diberi nomor mulai 001 sampai dengan 900. Langkah berikut ialah tidak memutuskan apakah kita akan memilih nomor-nomor yang menurut kolom (menurun) ataukah menurut baris (mendatar), hal ini bukanlah menjadi soal. Kemudian kita tentukan menurut kehendak kita dimana kita akan memulainya. Pada table random numbers ada lima digit angka, oleh karena misalnyabanyak anggota populasi hanya 900 maka yang kita perlukan adalah tiga angka. Kita ambil tiga angka dari belakang. Bila kita mendapatkan angka 95701 maka hal itu berarti responden nomor 701 terpilih sebagai anggota sampel. Tetapi bila kita menemukan tiga angka terakhir diatas 900, misalnya 03972, maka tidak dapat kita pakai, sebab jumalah maksimum populasi yang dimiliki hanya 900. Barang kali kita mendapatkan angka yang sama. Bila terjadi demikian makaharus kita abaikan, dan kita bekerja terus hingga jumlah yang kita butuhkan terpenuhi.

Salah satu kerugian dari cara pengambilan sampel secara random numbers (bilangan-bilangan random) ialah bila sampel yang kita perlukan besar, berkali-kali kita menemukan angka yang sama menyebabkan diperlukannya ketelitian agar tidak tercatat ulang. Dengan demikian akan memakan waktu yang lebih.

Neo Liberalisme, vs Neo Marxisme dan munculnya Gerakan Sosial

Neo liberal adalah paham bahwa masyarakat sipilah dan institusi-institusi ekonomi yang bisa mewujudkan ketertiban dan mendistribusikan sumber daya melalui kebebasan ekonomi termasuk pasar bebas, bukan Negara, karena Negara dianggap tidak mampu untuk melakukannya. Neo Liberal sangat kritis terhadap campur tangan Negara dalam hubungannya dengan masyarakat sipil dan sangat mengajurkan Negara menarik diri. Meski faham ini menganut dengan menganggap Negara tidak mampu melaksanakannya namun dalam kenyataannya Ia malah justru merangkul Negara yang semakin keras dan tidak bertanggung jawab. Hal ini dilakukan karena persoalan pemeliharaan ketertiban social dan distribusi sumber daya yang sesuai dengan ketentuan keadilan menjadi sangat diperlukan ketika pasar tidak diregulasi. Oleh karenanya racikan neo liberal telah menimbulkan keterbelahan dan keesahan social di negaramaju maupun berkembang. Dan jika hal ini terus berlanjut akan menjadikan sebuah Negara merupakan sebuah lahan pasar, sehingga menuntut Negara harus semakin mencampuri hubungan neo liberal dengan masyarakat sipil melalui kebijakan-kebijakan yang solutif melalui penigkatan kekuasaan hukum bukan sebaliknya.
Dominasi prinsip-prinsip neo liberal di lembaga internasional yang dipimpin Barat sangat kuat, seperti IMF dan World Bank, yang semakin menegaskan bahwa lembaga-lembaga tadi exis. Ia telah menganggap peran institusi lebih sebagi persoalan alih-alih sebuah solusi atas ketertinggalan. Pendekata yang abstrak ini digunakan neo liberal terhadap pembangunan ekonomi mengabaikan bagaimana ekonomi dunia dirancang demi kepentingan Negara-negara maju. Negara-negaa kuat telah menjadi “bidan” bukannya korban diregulasi ekonomi dan telah membentuk perdagangan internasional, bukan dengan cara-cara yang sejalan dengan pasar “bebas”, melainkan demi kepentingan mereka sendiri(Weiss,1998:204).
Kritikan yang muncul terhadap Negara dalam teorineo liberal sesungguhnya merupakan kritikan terhadap tatakelola pemerintahan demokratis. Secara domestic, Negara neo liberal bukanlah negar lemah,melainkan Negara yang sangat kuat dan tidak bertanggung jawab. Secara internasional adalah negara-negara kuat, sebagaimana hokum permintaan dan penawaran, yang telah membentuk system tata-kelola pemerintahan global yang jelas-jelas tidak demokratis. Akibatnya, neo liberalism merupakan strategi Negara tertentu untuk melayani kepentingan-kepentingan individu tertentu dan actor-aktor yang memperolah keuntungan dari regulasiekonomi, baik secara domestic maupun internasional.
Hal ini jika dibiarkan akan sangat berbahaya jika nanti neo liberal mampu menguasai dan mampu menjadi actor behind the scene dari sebuah negara dan organisasi Negara internasional. Ada sebuah faham sebagai yang menentang faham ini, yaitu faham neo marxisme.
Neo marxisme tidak langsung menerima teori marx, melainkan ia memandang bahwa teori dari marx sebagai suatu bentuk ilmu social yang memiliki kekuatan yang besar atas kapitalisme . Teori dari mark tersebut diracik kembali seiring perkembsngsn neo liberal. Disebut Neo-marxisme karena mempunyai sifat yang sama dan mengacu pada teori marxisme; seperti eksploitasi dan kelas pada maxsisme tradisonal, menganggap bahwa sosialisme lebih baik daripada kapitalisme, dan berusaha memehami dan menjelaskan masalah yang berhubungan dengan kapitalisme. Akan tetapi, teori ini pun secara sungguh-sungguh dan dengan mudahnya meminjam sudut pandang lain (Roemer, 1986a:7). Neo liberal dan neo marxisme pada dasarnya sama dengan kapitalisme dengan marxisme, yang menjadi pembeda sekaarang berada ditingkat global bukan lagi antara individu, dan teori yang sudah tidak relevan dikaji kembali. Neo marxisme menjadikan gerakana atas ketidak puasan kinerja pemerintah terhadap neo liberal, faham ini melahirkan gerakan social.
Gerakan social, berbagai aktivitas gerakan social baru telah sangat memperjelas hubungan problematic antara Negara dan masyarakat sipil. Kebangkitan gerakan social ini sebagi kekuatan politk, yang menyatakan ketidak kepercayaan terhadap Negara untuk memerintah masyarakat sipil secara demokratis dan inklusif dari neo liberal. Melalui kampanye mereka telah menyoroti bagaimana Negara tidak netral melainkan kenyataanya menimbulkan ketimpangan yang melingkupi masyarakat., oleh karena itu pemahaman tentang watak kekuasaan komunikasi telah diperdalam oleh perhatian pergerakan social baru. Mereka telah mmenunjukan bagaimana definisi tentang persoalan persoalan politik Negara sentries dan karenanya eksklusif dan hierarkismencerminkan relasi kuasa yang mengakar dalam pemerintahan kepada sipilnya. Semua jenis gerakan social perlu berinteraksi secara langsung dengan Negara jika mereka tidak ingin terus terpinggirkan secara politik. Karena Negara tetap merupakan titik focus kekuasaan.
Gerakan ini merupakan hasil dari pemikiran neo marxisme yang kontra terhadap neo liberal, pergerakan seperti green peace yang seperti kita lihat di video kemarin menunjukan bahwa mereka tidak percaya lagi terhadap kinerja pemerintah terhadap pemikiran yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan, selain itu muncul juga gerakan feminisme yang membela kaum wanita terhadap wanita dipandang lebih rendah dari pria. Pergerakan social akan selalu berkembang seiring perkembangan kapitalisme.

Daftar Pustaka
~Ritzer, George ; Douglas J.Goodman. 2010. Teori Sosiologi. Bantul : Kreasi Wacana.
~Faulks, Keith. 2010. Sosiologi Politik : pengantar kritis. Bandung : Nusa Media.
~Saksono, Gatut.2009. Neo Liberalisme vs Sosialisme. Yogyakarta: formkoma PMKRI

Negara Baru

Negara baru, Negara dunia ketiga atau Negara berkembang, istilah dunia ketiga awalnya dikenal dikalangan penulis liberal dan radikal Prancis di tahun 1950-an. Ketika mereka mencari jalan ketiga atau kekuatan ketiga dalam politik negara mereka, mana yang lebih cocok antara nasionalisme konservatif di satu pihak dengan komunisme yang dogmatis beku dengan pihak lain. Juga dalam skala yang lebih luas dan diluaskan lagi diperlukan didunia yang didominasi dan diancam perang dingin antara bansa bangsa industry yang kuat dan kaya di Barat dan Timur. Harapan mereka bertambah besar karena gerakan-gerakan diplomasi oleh negara lain yang dipimpin oleh Mesir, India,Yugoslavia , juga adanya konferensi Bandung pada tahu 1955. Ketika itu diantara dua puluh Sembilan negara di Asia dan Afrika, mayoritas baru saja mendapat kemerdekaan dari pemerintahan colonial. Apa yang disebut dunia ketiga berarti negara-negara  walaupun beda dibeberapa bidang lain, mempunyai tiga hal yang sama : miskin, mereka bekas negara jajahan dan dalam perang dingin antara barat dan timur mereka bebas. Dalam buku digambarkan sebagai rakyat jelata dunia , dan kalau mereka bersatu mungkin akan memiliki potensi yang sama dengan apa yang diperlihatkan oleh status ketiga dalam revolusi Prancis untuk mengubah tatana yang ada.

Segi lain dari pandangan tentang Dunia Ketiga yang tidak direalisir sepenuhnya adalah ketidak ikutan mereka ke dalam blok-blok yang ada. Pada waktu konferensi Bandung , Mesir dan India baru saja memperoleh kemerdekaan daari dominasi imperium Inggris, sedang Yugoslatvia berhasil membebaskan diri dai imperium Soviet di Eropa Timur. Ketiga-tiganya sangat berhasrat untuk menegakan kemerdekaan yang sebenarnya dan menghindarkan diri untuk digunakan sebagi budak dalam permainan persaingan negara-negara besar

Modernisasi di dunia ketiga dengan memusatkan perhatian kepada negara dan pemerintahan srta ekonomisebai nit analisa utama, orang dengan sendirinya terbawa pada bahwa  kalau ada negara yang kaya dan yang lainya miskin itu disebabkan yang pertama maju yang kedua terbelakang. Yang pertama telah mengalami tahap tahap perkembangan berkaitan  dengan industrialisasi lebih duluan ketimbang yang kedua. Pembangunan negara-negara miskin, dan usaha-usaha meningkatkan kehidupan penduduknya, merupakan suatu masalah bagaimana mereka dapat mengejar dengan usaha sendiri, dengan bantuan dari luar, atau dengan kedua-duanya. Kalau negara duia ketiga tidak melakukannya,atau kalau mereka lamban menangani usaha pemerintah mereka sendiri dan badan badan pembangunanluar negeri, pasti akan menemukan hambatan dalam pembangunan.

Biasanya negara dunia ketiga menggunakan pemecahan-pemecahan masalah dengan menggunakan rumus asing itu biasanya tidak hanya gagal mengatasi masalah yang mendesak, tetapi juga cenderung memiliki dampak negatif atas usaha-usaha di kemudian hari.Dengan menerapkan pemecahan-pemecahan asing atas dasar keadaan darurat yang kurang dipikirkan, elit Dunia Ketiga dan kaum intelektual kehilangan kesempatan bagi dirinya sendiri untuk menguasai masalah atas dasar pengertian mereka sendiri.

Kemudian dalam jalannya moderenisasi sendiri dunia ketiga juga dihadapkan dengan apa namanya yang sering kita sebut sebagai globalisasi dimana semua tatanan negara neagara dengan latar belakang yang berbeda, negara maju ataupun miskin dipertemukan dalam medan yang sama, hal ini membuat negara yang lemah dapat bertemu dengan negara yang maju dan sudah bias diduga bahwa negara dunia ketiga akan kalah persaingan dengan negara maju.

Daftar pustaka:

Goldthorpe .J.E. 1992 Sosiologi Dunia Ketiga Kesenjangan dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia Utama

REFORMASI

( DEMOKRASI  ERA REFORMASI BEBAS BERSUARA )

Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Sistem Politik Indonesia

Disusun Oleh :

Rahmat Sugiyaro

D0310054

B

Kelompok 4

Dosen pembimbing :Dra. Sri Hilmi P, M.Si

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

Lahirnya Reformasi

Huru-hara Mei 1998 merupakan peristiwa bersejarah yang membawa bangsa Indonesia pada babak baru perjalanan bangsa. Peristiwa ini tidak bisa dipisahkan dari rangkaian krisis moneter yang telah berlangsung sejak Juli 1997 yang melanda Thailand dan menyebar ke beberapa negara lain termasuk Indonesia dan Korea Selatan. Mengapa menuju kemelut karena adanya salah penaganan dan disdiagnosa dari pemerintah atas lembaga moneter internasional IMF yang berkembang menjadi krisis politik. Disertai lengsernya Soeharto ahnya selang dua bulan setelah dilantik dan harus digantika wakilnya BJ Habibie pada Mei 1998 eskalasi pada bulan itu meningkat karena di picu secara khusus oleh tekanan IMF pada pemerintah Indonesia untuk menaikan BBM pada tanggal 4, malam sebelum pengumuman itu Jakarta lumpuh antrean panjang di pom bensin menyebabkan kemacetan kemudian setelah naiknya harga BBm disusuk pula kenaikan harga bahan pokok lain rakyat yang berusaha bertahan semakin tercekik oleh karena kebijakan ini.

Sejak saat itu demonstrasi besar-besaran mahasiswa yang telah dimulai sejak Februari 1998, semakin marak dan berani dengan tuntutan harga-harga diturunkan dan agenda reformasi dilaksanakan. Momentum kerusuhan terjadi ketika empat mahasiswa meninggal ditembak aparat polisi pada demoonstrasi 12 Mei 1998 di Universitas Trisakti, kemarahan massa memuncak pada 13, 14, 15 Mei 1998 dengan meletusnya kerusuhan massa di Jakarta dan kota-kota lain menurut saya hal ini juga terjadi di Solo sperti di Matahari departement store di singosaren, kerusuhan ini berbentuk pada penjarahan, pembakaran mobil, perusakan fasilitas umum,pembakaran gedung-gedung serta aktifitas kriminal lain.

Setelah kerusuhan, demonstrasi tak berhenti, gedung DPR diduduki dan dikuasai oleh mahasiswa. Di level politik yang lebih tinggi, sejumlah mentri Kabinet Pembangunan VII mengundurkan diri dan dua fraksi penting  di DPR, fraksi Karya Pembangunan yang merupakan partai penguasa dan fraksi ABRI meminta presiden Soeharto untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden. DPR yang dua bulan sebelumnya mendukung Soeharto secara aklamasi, secara resmi juga mendukung tuntutan pengunduran diri presiden. Sehari kemudian menteri luar negeri Amerika juga menyatakan sudah waktunya bagi Presiden Soeharto untuk pergi. Setelah berkuasa 32 tahun ditopang dengan kekuata militer dan partai berkuasa Golkar akhirnya presiden Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI.

Babak baru era Reformasi

Sejak saat itu lahirlah era Reformasi yang menuju pada kehidupan demokrasi, demokrasi menjadi hak baru yang selalu menjadi konsep perubahan di kehidupan rakyat Indonesia di berbagai bidang. Di bidang pemerintahan, untuk membentuk pemerintahan yang demoktratis, maka dibukanya sistem multipartai atau pemilu bebas dan adil, dengan multipartai ini masyarakat dapat menyalurkan segala bentuk aspirasi mereka terhadap perkembangan negara sesuai dengan keinginan mereka dan adanya bentuk partisipasi semacam ini merupakan hal yang sangat baik dalam menunjang perjalanan pemerintahan, karena warga negara dilibatkan agar lebih aktif dan peduli pada keadaan politik pemerintahan, contoh kongkretnya antara lain dengan terlaksanaya pemilu tahun 2004 adalah pemilu pertama yang dilakukan secara langsung sejak Indoonesia merdeka.

Rakyat Indonesia yang awalnya dikekang pada massa orde baru selama kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun, mereka sangat tidak dilibataktifkan dalam perjalanan pengambilan keputusan dan kebijakan Negara. Sistem politik hanya berjalan dan dijalankan oleh pemerintah saja,artinya politik hanya dijalankan sebelah tangan saja tanpa memedulikan suara rakyat. Satu hal yang menjadi point penting dalam keberlangsungan era reformasi adalah adanya kebebasan atau demokrasi yang berani menguak semua keburukan masa orde baru, karena selama masa orde baru itu masyarakat selalu dalam keadaan yang seolah tenang tanpa adanya suatu isu-isu yang mengkhawatirkan tentang keadaan politik negara, tetapi ternyata di balik itu semua tersimpan rapi sisi gelap dari pemerintahan Soeharto.

Demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu demos ( rakyat ) dan cratos atau cratein ( pemerintahan ), jadi demos-cratein atau demos-cratos berarti pemerintahan rakyat atau kekuasaan rakyat. Demokrasi ini dapat berjalan secara langsung dan tidak langsung. Demokrasi langsung adalah bentuk demokrasi yang melibatkan warga negaranya untuk terlibat langsung dalam setiap pengambilan keputusan dalam permusyawaratan untuk menentukan kebijaksanaan umum dan Undang Undang contoh kongkritnya adalah seperti yang saya tuliskan diatas pemilu merupakan wujud demokrasi rakyat secara langsung. Demokrasi tidak langsung dilakukan dengan melalui perwakilan-perwakilan, sehingga bentuk perwakilan ini dilaksanakan dengan adanya pemilihan umum. Demokrasi memberikan peluang bagi masyarakat untuk terus berupaya mewujudkan cita-cita reformasi sebagai salah satu perwujudan masyarakat yang adil dan makmur di semua bidang, salah satunya yaitu adanya kebebasan yang diwujudkan dengan adanya nilai demokrasi.

Berbeda dengan beberapa waktu kebelakang dimana tidak terjadi keadilan demokrasi, rakyat sangat dibatasi untuk melawan kebijakan pemerintah yang otoriter, pada saat itu kita tahu bahwa pengawasan yang super ketat dari pemerintah soeharto terhadap pergerakan rakyat sekecil apapun. Bayangkan hanya bergerombol saja dilarang apalagi mengkritik pemerintah secara terang-terangan yang terjadi adalah penculikan dan akan entah kemana nasibnya bagi yang diculik oleh orang-orang Soeharto. Dengan pengawasan yang sebegitunya Soeharto sampai menyebarkan orang-orangnya sampai kalangan masyarakat terkecil sampai akar-akarnya hal ini sangat mengekang dan tidak memberi ruang bebas bagi rakyat untuk bersuara apalagi menyuarakan kebobrokan pemerintah saat itu. Namun hal ini berbeda dengan era setelah lengsernya Soeharto yang lahir massa reformasi yang membuka pintu demokrasi.

Demokrasi saat ini

Perlu diperhatikan Demokratisasi tidak hanya menyodorkan mimpi indah tentang kebebasan sipil, tetapi juga menjadi bayangan buruk yang harus diberi perhatian serius yaitu kemungkinan adanya anarki sosial dan disintegrasi politik. Berbagai hal yang perlu diperhatikan dan dibenahi  itu antara lain dimana masa transisi dengan keadaan ekonomi yang belum stabil, ketidak percayaan terhadap hukum, munculnya kerusuhan sosial dan konflik-konflik politik dan ketegangan antar berbagai segmen sosial yang sangal pluralis, misalnya segmen etnik, daerah, agama, kelas dan aliran ideologi politik, dan berbagai permasalahan kompleks lainnya.

Demokrasi bukan hanya berarti rakyat bebas bersuara tetapi juga rakyat bebas dimainkan suaranya oleh elit-elit politik hanya untuk sekedar memenuhi persyaratan menduduki kursi jabatan di pemerintahan yang sekarang konon  katanya memperhatikan suara rakyat. Saya menilai bahwa suara itu bukan di dengar oleh para wakil rakyat kemudian mereka berkerja untuik rakyat karena itu dari rakyat kembali kerakyat, melainkan mereka menghimpun suara rakyat sebanyak-banyaknya untuk memenuhi syarat menduduki kursi jabatan tertentu di pemerintahan. Kenyataanya setelah dan selama mereka menjabat, program yang mereka janjikan kepada rakyat tidak dijalankan sepenuhnya bahkan mereka korup dari rakyat hanya untuk kepentingan pribadi ataupun golongan. Ini jelas bagi saya sebagai indikasi bahwa sekarang itu bukan demokrasi yang terjadi melainkan democrazy dimana suara rakyat bebas dipermainkan, para elit politik bebas membuat keputusan seenak mereka sendiri, itu menurut saya.

Kembali pada topic bahwa diluar itu semua demokrasi sekarang berjalan lebih baik ketimbang massa orde baru, meski tidak disertai pembangunan dan peningkatan ekonomi seperti pada massa Soeharto dan sisi baiknya yang lain. Sekarang rakyat bisa bersuara, pers bebas merdeka, bisa mengkritik dan ikut serta menjembatani  antara interaksi rakyat dengan pemerintah dan rakyatpun di ikut sertakan dalam pengambilan kebijakan meskipun, secara tertulis. secara faktanya ?! adalah fakta pemerintahan saat ini dalam demokrasi.

DAFTAR PUSTAKA

Zon Fadli . 2004 . Politik Huru Hara Mei 1998 . Jakarta . Institute for Policy Studies (IPS)

Syafiie, Inu Kencana . 2002 . Sistem politik Indonesia . Bandung : PT Refika Aditama

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

seri publikasi Teoti Sosial Politik

Judul : renaissance

Nama: Rahmat Sugiyarto    NIM : D0310054

Dosen pengampu: Akhmad Ramdhon

Zaman Renainsans abad 14- 16 adalah suatu zaman keemasan dalam sejarah peradaban Eropa . Zaman ini merupakan fase transisi yang menjembatani zaman  suram atas penindasan atas nama gereja dan feodal yand mengguasai sistem yang ada, pengakuan manusia sebagai individu yang bebas mengekspresikan dirnya sebagai mekhluk yang bebas, tertutupi oleh pandangan manusia adalah bagian dari alam makhluk Tuhan bukan individu yang bebasdan tenggelam dalam dogma agama dengan zaman pencerahan dimana mulai timbul pemikiran pemikiran dan gerakan melawan kristenisasi dan gereja, duniawi dan rohani dipisah mulai muncul pengakuan terhadap individu untuk bebas berekspresi di duia politik, ekonomi, sosial, budaya dan sains. Dengan lahirnya Reinaisans, peradaban barat mulai maju. Reinaisans , membuat Eropa menapaki abad-abad modern begitu cepat setelah lepasnya dogma agama.

Secara etimologi Renaisans (Perancis:Renaissance,berasal dari kata-kata Re(kembali) dan Naitre(lahir) berarti lahir kembali. Dalam konteks sejarah Barat , istilah itu mengacu pada terjadinya kebangkitan kembali dan bukan hanya mengembalikan melainkan juga menciptakan tatanan kehidupan yang baru terhadap kekayaan warisan Yunani dan Romawi kuno dalam berbagai aspeknya. Manusia  Renaisans begitu bersemangat mempelajari karya – karya pemikir agung Yunani kuno dan Romawi seperti Plato,Platinus, Archimedes dan Aritoteles.

Zaman Renaisans membawa penduduk Eropa kepada zaman peradaban yang lebih maju. Pada masa ini manusia mencapai prestasi yang gemilang dalam berbagai bidang seni,filsafat,literature sains,politik,pendidikan,agama,perdagangan, musik, teknologi dan lain-lain. Membangkitkan kembali cita-cita,alam pemikiran,filsafat hidup yang kemudian menstrukturasi standar-standar dunia modern seperti optimism,hedonism,naturalism dan individualisme. Kebangkitan lagi minat mendalam terhadap kekayaan warisan Yunani dan Romawi kuno.Terjadinya kebangkitan humanisme sekuler yang menggeser orientasi berfikir manusia dari yang bersifat teoristik menjadi antroposentris.Terjadinya pemberontakan terhadap gereja yang kemudian memunculkan kebebasan intelektual dan agama.Mengurangi juga keterikatan manusia  dari belenggu dogma agma anti kemanusiaan abad pertengahan. Dari segi pemikiran politik ,zaman Renainsans telah memunculkan wawasan barudalam hubungan antara negara dengan agama dan moralitas. Hal ini memicu temuan temuan baru, seperti mesin cetak, bubuk museu, karya tulis dan cerita cerita yang berkembang dan musik yang berbeda yang keluar dari gerejanisasi yang merekaa menayangkan seni, sihir, pencerahan dan lainnya melalui visual.

Daerah-daerah kawasan Itali dan Mediterania yang pada mulanya berbudaya masyarakat agraris berorientasi desa (rural oriented) , setelah terjadinya kapitalisme yang begitu pesat,yang kemudian berorientasi kota (urban oriented). Perubahan orientasi itu terlihat dari pesatnyua lembaga-lembaga keilmuan ,pendidikan,seni dan filsafat. Aktifitas ekonomi juga semakin maju dengan lahir dan berkembangnya system perbangkan Industri manufaktur dan lain-lain. Perang Salib (Crusade War) yang berlangsung sejak abad X-XII juga mempunyai andil yang sama. Melalui perang ini ,kontak perdangan terjadi antara dunia Barat (Kristen) dengan dunia Timur (Islam). Lalu lintas perdangan dan merkantilisme semakin intensif berlangsung justruh pada saat dan terjadinya perang itu.

Dalam perang Salib ini membawa banyak manfaat di dunia Barat .Terjadi transmisi peradaban dari dunia Islam (peradaban Sarasenik Bizatium) ke Barat khususnya daerah Itali dan kawasan Mediterania. Dari perang Salib ini manusia mempelajari intelektual Yunani kuno serta bahasa Arab.

Kelahiran zaman Renainsans dikondisikan oleh pertikaian antara Kristen dengan ilmu pengetahuan. Tak ada ujungnya dan cendikiawandan pelopor ilmu pengetahuan modern melawan dogma-dogma gereja.  Pandangan dan doktrin gereja di tentang karena dalam menyelesaikan masalah gerja menggunakan kekerasan dan kemudian membakar ilmu-ilmu pengetahuan.

Nurcholish Majid menulis bahwa apa yang terjadi dan saat menjelang dan berlangsungnya zaman Renaisans itu sama sekali berbeda dengan apa yang terjadi di dunia Islam. Pada abad yang sama dengan Rainansens di dunia Islam terjadi punya perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan .Teori-teori pengetahuan empiris dan fisafat imu pengetahuan Ibnu Chaldun, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd (Averoism) berkembang pesat dan menimbulkan kontroversi dan polemic berkepanjangan.

Rakyat pula pada waktu itu juga ketergantungan dengan bangsawan pada masa renasains menyumbangkan Kemunculan aliran pemikiran yang mementingkan kebebasan akal Eropa hingga abad ke 18 seperti Humanisme, rsionalisme, nasionalisme dan absolutisme berani mempersoalkan kepercayaan dan cara pemikiran lama yang diamalkan selama ini secara langsung melemhkan kekuasaan golongan feodal. Renaissance telah membentuk masyarakat perdagangan yang berdaya maju. Keadaan ini telah melemahkan kedudukan dn kekuasaan golongan feodal yang sentiasa berusaha menyekat perkembangan ilmu dan masyarakat di Eropa. Melahirkan tokoh-tokoh pemikir seperti Leonardo de Vinci yang terkenal sebagi pelukis, pemusik dan ahli filsafat. Michelangelo merupakan tokoh seni, arsitek, penyair dan ahli anatomi. Melahirkan tokoh sains terkenal seperti Copernicus dan Galileo. Melahirkan ahli matematik seperti Tartaglia dan Cardan yang berusaha menghuraikan persamaan ganda tiga. Tartaglia orang pertama yang menggunakan konsep matematik dalam ketenteraan iaitu mengukur tembakan peluru mariam.  Itali telah menjadi pusat ilmu yang terkenal di Eropa pada abad ke 15. Hal ini terjadi apabila Kota constntinople dikuasai oleh Islam telah jatuh ke tangan orang Barat pada tahun 1453. Keadaan ini telah menyebabkan ramai para ilmuan Islam berhijrah ke pusat-pusat perdagangan di Itali. Ini menyebabkan Itali menjadi pusat intelektual terkenal di Eropa pada masa itu.

Daftar pustaka:

Brown, Alison, Sejarah Renaisans Eropa. Bantul: Kreasi Wacana. 2009

ane punya tips nie kalo temen2 yang bawa laptop atau barang berharga saat mau shalat. cz g jarang yang kwhilangan laptop atau barang berharga saat ditinggal shalat so U mas allways carefull supaya nggak ngalaminnya dan ibadah km jd lebih tenangdan gak ada yang dirugikan.

ini tips ane:

1. titipin barng2 berharga ke pengurus msjid.

2. klo g ada jngn taruh barang2 berharga Loe pada dibelakang atau luput dari pandangan cz bisa-bisa diambil dan Loe g tahu cz Loe pada g bisa ngawasin y, jd taruh barang-barang Loe Loe pd ditempat yang Loe bs awasin

3. ok ane kira cukup itu aj cz klo Loe pd khilangan brng ky gitu, Loe lapor polisi jg g bakalan ketemu.

Ane kira cukup terakhir jngn lupa doa n mohon kepada Allah SWT spy g ilang n trakhir jngn lupa bayar zakat 2,5% only ok.

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

seri publikasi

Mata kuliah Dasar-dasar Logika

Judul : BALI PASCAKOLONIAL

Jejak Kekerasakn dan Sikap Kajian Budaya

Nama: Rahmat Sugiyarto    NIM : D0310054

Dosen pengampu: Akhmad Ramdhon

review buku:

BALI PASCAKOLONIAL

Jejak  Kekerasan dan Sikap Kajian Budaya

Penulis: I Ngurah Irawan

ISBN 978-979-3037-36-5

Review

Buku ini adalah kumpulan tulisan penulis yang sebagian besar dipublikasikan pada Jurnal Kajian Budaya, Program Magister dan Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana dan beberapa kertas kerja untuk kepentingan seminar dan konferensi. Beberapa tema-tema tulisan di jurnal tersebut masih seputar sejarah sosial, politik kebudayaan, dan  genealogi kekerasan yang di tekuni penulis sejak 2002. Penulis mengembangkan fokus kajian kepada kelompok-kelompok yang terpinggirkan, para subaltern yang berada di tepi pasang surut pergolakan politik kebudayaan dan kekerasan di Bali. Ide dasar buku ini merekasikan tiga poin penting yaitu (Bali) pascakolonial, kekrasan, dan kajian budaya.

Bali pascakolonial menuju pada sebuah perdebatan teoritik dan empirik tentang bingkai perspektif melihat Bali hingga saat ini. Konteks pascakolonial sangat penting diajukan untuk melihat Bali bukan sebuah warisan yang steril dari relasi kuasa. Bingkai pascakolonial memperlihatkan perspektif bagaimana melihat negara bekas jajahan dari pembongkaran warisan praktik kolonialisasi tersebut. Warisan praktik kolonialisasi telah memendam dan tercermin dalam kehidupan negara jajahan, bahkan diadopsi oleh masyarakat terjajah untuk mempraktikan kolonialisasi sesama mereka. Warisan praktik kolonialisasi inilah yang coba untuk dibongkar oleh perspektif pascakolonial.

Bali mencatatkan sejarah panjang kolonialisasi yang meninggalkan begitu banyak wearisan hingga kini begitu kuat dan lestari. Warisan rezim kolonial itulah yang dianggap oleh sebagian besar masyarakat Bali sebagai warisan yang “adiluhung”. Warisan yang diantaranya tersebar dalam adat-istiadat, sistem sosial, desa adat, nilai-nilai, budaya, dan hukum mendarah daging dalam kehidupan rakyat Bali. Hal ini diuraikan dalam bab V, jejaring kuasa dalam pembentukan ke-Bali-an yang dimulai dari praktik kolonialisasi di Bali. Salah satu bagiannya menguraikan tentang ideologi Baliseering yang merupakan salah satu ideologi rezim kolonial untul membuat Bali.

Rezim kolonial berusaha melakukan proyek rekayasa penciptaan budaya Bali dengan merekayasa dan mengkonsumsi budayanya sekaligus. Hal ini menunjukan bagaimana secara lebih luas identitas tentang Bali yang diwariska hingga kini dirancang olah kekuasaan rezim kolonial. Penciptaan ideologi konservasi mentradisikan Bali hanya menetapkan Bali sebagai obyek negara jajahan dalam praktik kolonialisasi. Praktik penjajahan kolonial bukan hanya melakukan penjajahan secara fisik dalam menaklukan wilayah, tapi juga melakkukan penguasaan dan penciptaan atas lingkungan sosial budaya negara jajahan tersebut. Praktik kolonialisasi menjadi semakin canggih dari kolonialisasi tradisional ke kolonialisasi modern. Kolonialisme modern ditandai dengan dua ciri penting yaitu: (a)daerah, daerah koloni tidak hanya membayar upeti, tetapi struktur perekonomian daerah koloni (dengan manusia dan alamnya) dirombak demi kepentingan negara induk. (b) daerah-daerah koloni menjadi pasar yang dipaksamengonsumsi produk-produk negara penjajah. Dalam kolonialisme modern, kemampuan manusia dan sumber alam dari daerah koloni diliarkan sehingga keuntungannya,oleh sistem yang bekerjaakan selalu kembali ke negara induk. Dengan sistem ekonomi seperti ini dapat dipahami bahwa sistem perekonomian kolonial sangat berperan dalam menumbuhkan kapitalisme dan industri Eropa. Dengan kata lain, kolonialisme menjadi bidan yang membantu kelahiran kapitalisme Eropa.

Penjajahan kolonialisasi di Bali jelas pada tataran ideologi, sebagai jajahan secara pemikiran . ia membangun sebuah pembedaan yang menarik dan agak tendensius diantara dua tipe kolonialisme yang secara kronologis berbeda. Pertama, pemikira yang relatif sederhana yang menyangkut fokusnya pada penaklukan fisik banyak teori, sedangkan yang kedua lebih mengacu pada komitmennya terhadap penaklukan dan penjelajahan pikiran ,jiwa, dan budaya. Jika kolonialisme pertama lebih keras dan juga lebih transparan dalam swakepentingan, ketamakan dan keserakahanya. Sebalikyan dan yang lebih membingungkan model kedua justru dipprakarsai oleh kaum rasionalis, modernis, dan liberal yang berpendapat bahwa imperialisme merupakan pertanda menuju dunia yang tak beradap.

Represenasi kekerasan dan ekspresi keterdesakan secara simbolik terjadi pasca bom 2002 dan 2005. Momen kekerasan menempatkan peristiwa yang sangat berat yang menundang keprihaitnan dunia internasional, sementara kekerasan pembantaian massal 1965 dikubur dalam-dalam, berusaha dilupakan dan disimpan dalam glamornya pariwissata yang menjadi pahlawan pembangunan Bali.

Kemudian pada bagian akhir dari buku ini menjelaskan jebakan kajian budaya yang sebelumnya anti disiplin menjadi disiplin malah menjadi bumerang sendiri. Sebagai sebuah disiplin yang ditawarkan universitas, ia menjadi bagian kemapanan akademik dan struktur kekuasaan lembaga pendidikan. Pada akhirnya kajian budaya menjadi terlalu teknis, dangkal, dan tercabut dari akarnya yaitu kehidupan dan realitas orang-orang yang tertindas yang seharusnya diberdayakan, dibuat sebagai strategi perlawanan dan rejuangan hidup.

Kontaminasi pendisiplinan dalam kuasa akademik dan struktur kekuasaan universitas kemudian menyeret kajian budaya sabagai salah satu bagian dari industrialisasi pendidikan. Kajian budaya dalam salah satu sindiran dinyatakan sebagai tong sampah, bercampurnya seluruh ilmu tanpa pondasi yang kokoh terhadap pemahaman teoritik, ideologis, serta politis dari ilmu ini. Yang terjadi kemudian adalah pengukuhan elitisme kelas menengah melalui institusi pendidikan dan ritual birokratisme pendidikan.

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

seri publikasi

Mata kuliah Dasar-dasar Logika

Judul : Orang Boyan Bawean

Perubahan Lokal dalam Tranformasi global

Nama: Rahmat Sugiyarto    NIM : D0310054

Dosen pengampu: Akhmad Ramdhon

Review  buku:

Orang Boyan Bawean Perubahan Lokal dalam Transformasi Global

Penulis: Dr. Drajat Tri  Kartono, M.Si.

ISBN 979-3456-03-5

Review

Buku ini merupakan penulisan kembali laporan penelitian untuk disertasi di Universitas Indonesia. Penelitian terhadap realitas suatu pulau kecil di pulau jawa bernama Bawean. Pulau ini terletak antara radius kira-kira 80 mil sebelah utara Surabaya karena pulau yang terpencil itu sebagian besar penduduknya baik yang berada di puncak gunung maupun di daerah pinggiran pantai telah berpengalaman mencari nafkah dengan menjelajah mancanegara. Padahal dimana di desa si penulis tinggal listrik hanya nyala antara jam enam sampai jam dua belas malam.  Pada saat itu penulis sendiri belum pernah keluar negeri, rasa heran tersebut membawa penulis untuk memulai pengkajian.

Buku ini bagian pokoknya ada terdiri dari empat bagian yaitu sebagai berikut:

Bagian pertama terdir dari dua bab (Bab I dan II) membahas tentang masyarakat Bawean dan Boyan serta membahas tentang Peran Negara dan Respon Migran. Bab I memberikan gambaran konstektual dari Pulau Bawean didlam kajian mengenai dinamika ekonomi masyarakat migran dimulai, serta karakteristik orang Bawean di Malysia(Kuala Lumpur dan Selangor) atau biasa dikenali dengan sebutan Boyan. Topografi pulau Bawean adalah berbukit-bukit menurut pengamatan Jawa Pos (19 oktober 1990) terdapat sekitar 99 bukit, di Pulau Bawean dikenal sebagai pulau bukit dilihat dari kejauhan terlihat bukit-bukit lancip di pulau tersebut bukit tersebut adalah tanah kapur dengan kondisi tanah yang tidak begitu subur karena erosi dan penebangan hutan sejak dulu sehingga kurang menguntungkan apabila untuk kegiatan pertanian. Bab II membahas tentang konteks pola migrasi orang Bawean yang berada diluar pola yang dikembangkan oleh negara (terutama Indonesia). Karena keadaan alam yang kurang subur kemudian sebagian besar dari panduduk Bawean adalah bermata pencaharian sebagai peteni, tapi merka tidak bisamenjual keluar pulau karena biaya transport yang melebihi harga hasil panen maka mereka terpaksa mencari alternati lain untuk menjamin hidupnya salah satunya yauitu dengan kerja di luar negeri, bagi pemerintah hal ini menjadi penting karena para TKI  yang bekerja diluar negeri menghasilkan devisa bagi negara yang sangat besar. Berdasarkan Depnaker tahun 1995 para TKI menghasilkan devisa bagi negara mencapai 830 juta US$. Melihat situasi ini pemerintah mulai mengambil kebijakan mengenai tenaga kerja mulai dari menjamin perlindungan, penyaluran tenaga kerja , sertifikasi bahkan satya menilai dengan digalakkannya pendidikan kejuruan atau SMK juga sebagai pembekalan kepada calon-calon TKI atau pekerja domestik. Posisi penjelasan ini penting karena faktor-faktor banyak terlibat tidak saja pada saat mengambil keputusan tetapi juga dalam proses perjalanan dan kehidupan di Malaysia.

Bagian kedua membahas tentang dinamika kehidupan ekonomi masyarakat Bawean yang tidak berbasis pada sumber daya ekonomi lokal tetapi memakai migrasi kerja keluar negeri (Malaysia) sebagai alternatif untuk menjamin kehidupan dan kesejahteraan ekonomi. Pada bagian ini dibahas empat konsep penting sebagai pendekatan (teori) yaitu konstruksi sosial, modal sosial, jaringan sosial, dan path dependensi. Masing-masing konsep dideskripsikan dalam bab III bahwa selain untuk pemenuhan kebuthan hidup merantau juga sebagai budaya otang Bawean, lebih lanjutnya hal ini dilakukan penelitian oleh Vrendenberg pada tahun 1988 beliau menuliskan bebebrapa faktor penyebab mereka merantau diantaranya adalah kesulitan ekonomi daerah asal dan daya tarik di daerah tujuan perantaauan, IV ikatan keluarga dalam ekonomi merantau. Keluarga mempunyai peran penting dalam mengambilan keputusan untuk bekerja diluar negeri dan selama di negara tujuan keluarga peannya sangat penting. Disini dijelaskan sistemkeluarga, kemudian selayaknya kluarga yang ditinggal lama rentan akan perselingkuhan terutama istri berpeluang untuk selingkuh karena secara kebuthan batiniah tidak terrpenuhi, kemuydian perceraian, namun hal ini jarang terjadi di desa Gunung maupun sangkapura hal ini lebih sering terjadi di daerah pelosok yang jauh dari kota , V Komersialisasi Lembaga Pengantar dan Ketiadaan Modal Sosial, dalam proses ini  migrasi tenaga kerja dari pulalu Bawean sampai ke Malaysia, istilah pengawal cukup penting untuk dipahami secara terpisah. Hal ini terkait dengan peran penting dari pengawal sebagi lembaga “penghubung di dalam proses migrasi tenaga kerja” antara migran di Pulau Bawean dan pasar tenaga kerja di Malaysia. Pada umumnya, para migran  yang baru pertama kali merantau keluar negeri dan yang tidak punya modal serta sanak saudara, merasakan nilai penting pengawal yang mengantar mereka ke Malaysia

Secara sederhana pengawal adalah pekerjaan seseorang lebih tepat digambarkan sebagai suatu komplek kegiata atau jaringan.  VI Ekonomi Lokal dan ekonomi Migran, sumber mata pencaharian dari ekonomi mancanegara atau merantau telah menunjukan hasil di Bawean. Bentuk hasil ini yang jelas dapat dilihat adalah runah-runah tembok dan berlantai tegel serta perabot rumah tangga yang berkualitas. Dalam penjelasan sebelumnya telah ditunjukan bahwa perkembangan ini didukung konstruksi sosial masyarakat yang terkait dengan misi kesejahteraan keluarga atau dusun dan penghargaan terhadap hasil merantau. Konstruksi sosial ini diperkuat dengan jalur meantau melalui keluarga, telah memberikan kontribusi yang besar dalam peningkatan pengiriman tenaga kerja dari Bawean keluar negeri. Tambahan unutk melengkapi diskripsi ini dikemukakan pada bab VII yang secara khusus menjelaskan tentang strategi atau penyesesuaian sosial (organisasi, semangat kerja dan perilaku) orang Bawean dalam usaha bertahan dalam kompetisi di pasar tenaga kerja tidak terampil di Malaysia, tambahan ini penting karena didalamnya tergambar strategi untuk perlindungan dan jaminan sosial tenaga kerja diluar negeri yang selama ini menajdi masalah tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Bagian ketiga membahas mengenai dampak migrasi tenaga kerja internasioanal yang dilakukan orang Bawean terhadap perkembangan ekonomi masyarakat di Pulau Bawean. Bagian ini mengambil judul tentang kota sebagi suatu penonjolan terhadap kecenderungan sifat komsutif yang berkembang baik dalam segi kegiatan komsumsi maupan produktif (investai). Perkembangan karakteristik ini yang mendorong berkembangnya Kota Sangkapura di Bawean. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah setelah menghasilkan dari hasil merantau kemudian hasilnya atau sering sebutannya remitanakan digunakan sebagai investasi unutk usaha dan konsumsi, kedua hal tersebut secara makro berdampak pada perkembangan urbanisme (perkembangan kehidupan dierkotaan) di Bawean. Didalamnya juga dibahas tentang dampak di tingkat yang lebih kecil yaitu keluarga.

Bagian keempat adalah kesimpulan yang didalamnya didiskusikan tentang kehidupan ekonomi masyarakat Bawean dengan pendekatan sosiologi ekonomi. Hal ini penting dalam diskusi tersebut adalah diskusi tentang embeddedness (ketertambatan) ekonomi dalam proses sosial. Ekonomi yang dilihat secara menyuluruh tidak hanya saja sebagai transaksi produsen dan konsumen atau tenaga kerja dan  majikan. Disamping itu, diskusi ini juga membuka cakrawala untuk mengkaji fenomena migrasi tenaga kerja internasional tidak saja sebagai gejala demografi tetapi juga sosiologi ekonomi.

Review Buku Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi

Review buku Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi, sebuah buku karya Prof. Dr. R. M. Soedarsono seorang guru besar sejarah seni dan budaya pada fakultas ilmu budaya dan program pascasarjana Universitas Gajah Mada. Beliau mengenyam pendidikan malang melintang dunia internasional. Buku ini diterbitkan pada tahun 2002 oleh Gajah Mada University Press yang merupakan edisi ketiga yang diperluas awalnya buku ini ditulis untuk tujuan sebagai  referensi bagi perguruan-perguruan tinggi yang dirasa sangat kurang, namun seiring perkembangannya kemudian buku ini ditulis diperluas dan dikembangkan menjadi benar-benar beernilai sebagai buku refeensi dan bukan hanya sekedar buku pengantar.

Pada buku ini dijelaskan apa budaya, darimana asalnya, ciri karakteristik budaya yang diulas, siapa pencipta dan tokoh yang menggeluti, dan keadaan budaya itu di era globalisasi mulai dari dampak, budaya yang dibaikan namun digembar-gemborkan saat diklaim oleh negara lain seperti pada kasus Reog Ponorogo yang diklaim oleh Malaysia. Serta budaya barat yang meluas di tanah air yang mulai mengganti kebudayaan bangsa sendiri. Dalam buku ini yang akan saya ulas adalah aspek sosiologi yang ada dalam buku ini.

Dalam buku ini dituliskan apa penyabab hidup matinya sebuah seni pertunjukan yang bermacam-macam, ada yang terjadi perubahan yang disebabkan oleh perubahan politik, ada yang disebabkan oleh masalah ekonomi , ada yang disebabkan oleh berubahnya selera masyarakat peminat, dan ada pula yang tidak mampu bersaing dengan kebudayaan lain. Selain itu msh ada lagi beberapa yang dituliskan dalam buku ini. Dari pernyataan ini saja kita bisa melihat bahwa seni itu juga dipengaruhi oleh kehidupan politik dan ekonomi yang kedua tersebut tidak lepas dalam kajian sosiologi dan beberapa penyebab lainnya karena faktor penyebab tersebut ada dalam diri masyarakat dan dapat menimbulkan permasalahan bagi masyarakat itu sendiri.  Dan juga tidak mungkin sebaliknya juga Seni memberi pengaruh bagi kehidupan politik, ekonomi, dan perilaku masyarakat dalam kehidupanya. Seni itu diciptakan oleh masyarakat namun akan tetapi seni juga akan mengalami apa yang disebut dengan perubahan yang dilakukan masyarakat pula dalam proses perubahannya akan ada permasalahan yang timbul dam ada yang untung dan ada yang dirugikan. Sebagai contoh seni pertujukan sekarang kalah dengan hiburan dari luar seperti bioskop dan lain sebagainya.

Masyarakat indonesia dilihat dari sejarahnya sejak dulu kebanyakan memiliki keterbukaan dengan dunia luar. Dalam buku ini dituliskan pengaruh budaya lain dari masa ke masa, seperti misalnya pengaruh dari agama Hindu, Islam, Cina, Barat. Di Indonesia sendiri memiliki lima ratus kelompok etnis dan penduduk yang banyak yang bukan tidak mungkin mudah terjadi ketegangan antar etnis.  Pernah terjadi masa polemik kebudayaan pada tahun 1928 tanggal 28 oktober yang melahirkan sebuah ikrar yang kemudian kita kenal sebagai Sumpah Pemuda, yang membawa pula pemikiran yang dilontarkan oleh para cindekiawan untuk merumuskan, bagaimana kebudayaan Indonesia akan diarahkan menjadi kebudayaan yang modern. Adu pemikiran ini makin memanasterjadi antara tahun1935 sampai 1939, yang dikenal dalam sejarah sebagai ‘Polemik Kebudayaan’. Dua kubu yang saling berseberangan pendapat adalah kubu yang percaya bahwa bangsa Indonesia hanya akan bisa menciptakan kebudayaan Indonesia yang modern apa bila kiblatnya di arahkan ke barat, sedang kubu yang satunya membantah bahwa tidak mungkin Indonesia sebagai bangsa timur akan mengarahkan kebudayaanya ke barat. Kedua kutub pemikiran ini saling serang lewat  berbagai tulisan-tulisan dan media masa. Tokoh yang sangat gigih untuk Indonesia harus ke arah Barat adalah Takdir Alisjahbana, sedang lawannya adalah Sanusi Pane. Kemudian seorang cindekiawan Jawa yang telah mengenyam pendidikan di Barat, Belanda, melihat peristiwa tersebut kemudian melontarkan pendapat janganlah kita melupakan sejarah kita sendiri dan tertipu oleh budaya barat lebih baik di ambil yang baik-baik saja. Kemudian dari sinilah saya menarik kesimpulan budaya yang kita anut sekarang ini adalah wujud dari pembiaran atau kebebasan untuk memilihnya sendiri mana yang akan kita ikuti tergantung pada diri masing-masing, dari pengamatan sekilas saja dapat disimpulkan kebudayaan kita yang sekarang itu lebih banyak yang mengarah ke barat. Tentu saja hal ini akan menimbulkan permasalahan bagi orang yang memegang budaya timur tentunya karena Indonesia adalah bangsa timur, atau seseorang yang memiliki kehidupan berbudaya timur namun berada pada kondisi lingkungan yang berbudaya barat.

Dunia seni adalah dunia yang diciptakan masyarakat tentusaja  banyak akan manusia akan bergelut dengannya dan merupakan kebutuhannya. Peristiwa ini tentu tidak akan lepas dari dunia politik sebagai sasaran media kampanye dan kepentingan-kepentingan politik, pada beberapa masa yang lalu kesenian asal Solo ketoprak yang justru sangat popular di Yogyakkarta di gaet Partai Komunis Indonesia (PKI) yang paling mencolok pada tahun1950-an sampai awal tahun1960-an, ketika partai ini mendominasi kehidupan politik tanah air. James R. Brandon dalam bukunya Theatre in Southeast Asia memberitakan, bahwa PKI membentukorgaisasi ketoprak seluruh Indonesia yang diberi nama Badan Kontak Ketoprak Seluruh Indonesia (BAKOKSI) kebudayaan yang bernama LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang secara langsung berhubungan dengan BAKOKSI selain menampilkan lakon-lakon yang mengobarkan semangat partai, pernah pula menampilkan cerita yang menghina agama dengan lakon “Matinya Tuhan”, kemudian disusul judul “Pernikahan Paus”, sementara itu Partai Nasional Indonesia (PNI) juga memiliki organisasi ketoprak yang bernama Lembaga Ketoprak Nasional (LKN) akan tetapi keanggotaanya hanya seperempat BAKOKSI, namun gemuruhnya perkembangan ketoprak dikalangan masyarakat yang berbahasa jawa kemudian berakhir menyusul peristiwa berdaarah pemberontatan PKI yang gagal yang terjadi pada 30 September 1965. Banyak tokoh-tokoh ketoprak yang membintangi BAKOKSI harus masuk penjara, karena mereka dituduh sebagai angoota PKI yang sangat aktif, setelah peristiwa berdarah itu berakhir pertunjukan ini muncul tapi tak senyaring dulu, bahkan bila dipertunjukan secara komersial hanya sebagai selingan pertunjuka wayang, tidak hanya masa PKI, pada masa penjajahan Jepang, sejak tahun1942 pertunjukan Ludruk yang masih bisa berjalan meski dengan pengawasan sering pula memanfaatkan seni pertunjukan Ludruk untuk keperluan propaganda, namun karena Ludruk berasal dari rakyat sering dilontarkan pula sindiran-sindiran kepada Jepang sehingga kurang berhasil. Ternyata Ludruk juga digunkan senjata untuk melawan Jepang lewat sindiran-sindiran yang mengacu  pada agar rakyat Surabaya berani menentang penindasan Jepang. Pada masa itu group Ludruk yang paling terkenal adalah group asuhan Cak Durasin, atau yang sering dikenal dengan Ludruk Durasin. Seiring dengan sindiran-sindiran yang sering muncul Jepang mulai khawatir kemudian mereka mengambil tindakan dengan memanggil Cak Durasin dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaanya.

Menurut saya ini merupakan fungsi seni bagi masyarakat selain untuk hiburan ternyata seni juga sebagi media aspirasi rakyat yang ingin didengar. Pada kehidupan sekarang kita bisa menyaksikan acara hiburan yang yang mengupas tentang apa yang dilakukan  pemerintah dan terkadang memberikan sindiran serta menyampaikan suaranya, sebagai contoh seperti acara Sentilan Sentilun, Provocative Provoactive di MetroTv, Bang One di Tv One, dan saya sering menjumpai acara wayang itu juga menyindir para pejabat dan aparat, tentang perilaku mereka yang korup. Dari sinilah saya menemukan aspek Sosiologi dalam buku ini.

Daftar Pustaka:

Prof. Dr. R. M. Soedarsono,Seni Pertunjuka Indonesia di Era Globalisasi (Yogyakarta; Gajah Mada UniVersity 2002)